Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kokohnya Tekad Umar Mengikuti Jejak Rasulullah

0

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Hasan Basri tentang Umar ibnul Khattab, “…Lalu mereka berkata, ‘Bagaimana menurut kalian, wahai kaum Muhajirin dan Anshar, tentang zuhud dan corak lelaki ini? Kita telah saling berdekatan semenjak Allah taklukkan di tangan lelaki ini negeri-negeri kisra dan kaisar, dari ujung timur sampai ujung barat.

‘Utusan-utusan resmi bangsa Arab dan asing telah mengunjunginya, dan mereka semua melihat pada jubah yang dipakainya telah terdapat dua belas tambalan. Wahai segenap sahabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kalian adalah para pembesar dari orang-orang yang telah bersama dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam segala situasi dan pertempuran, kalian juga para Muhajirin dan Anshar yang terdahulu masuk Islam.

‘Andaikan kalian mau meminta Umar supaya mengganti jubahnya dengan kain lembut yang membuatnya tampak lebih berwibawa, kemudian diberi makan siang dengan semangkuk besar, juga semangkuk besar makanan untuk makan malam, yang ia makan bersama-sama Muhajirin serta Anshar yang sedang bersamanya.’

Kaum muslimin sepakat bahwa yang dapat menyampaikan usul ini kepada Umar adalah Ali bin Abi Thalib. Dialah orang yang paling berani dengan Umar, lebih dari itu, karena Ali telah mengawinkan anak perempuannya dengan Umar. Atau kalau bukan Ali, anak perempuan Umar, Hafshah, dan ia adalah Ummul Mu’minin.

Umar pasti mau mendengar perkataannya karena kedudukan Hafshah yang dekat dengan Rasulullah Hafsha. Kemudian kaum muslimin membicarakan hal tersebut kepada Ali bin Abi Thalib.

Akan tetapi Ali menjawab, ‘Bukan aku orang yang dapat melakukan hal itu, akan tetapi silakan kalian meminta kesediaan istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ummahatul Mu’minin berani mengusulkan hal itu kepada Umar.’

Ahnaf bin Qais mengatakan bahwa kemudian mereka meminta kesediaan Aisyah dan Hafshah yang saat itu keduanya sedang bersama.

Lalu Aisyah menjawab, ‘Aku akan mengusulkan hal itu kepada Amirul Mu’minin.’

Akan tetapi Hafshah mengatakan, ‘Aku yakin ia tidak akan menurutinya, lihat saja nanti akan jelas kepadamu!’

Aisyah dan Hafshah datang menghadap Amirul Mu’minin. Lalu Amirul Mu’minin menyuruh mereka berdua untuk mendekat.

Kemudian Aisyah berkata, ‘Wahai Amirul Mu’minin, izinkan aku untuk berbicara!’

Umar menjawab, ‘Bicaralah, wahai Ummul Mu’minin!’

Aisyah berkata, ‘Rasulullah telah pergi menuju surga-Nya. Beliau tidak menginginkan dunia, dan dunia tidak menginginkan beliau. Begitu pula Abu Bakar yang mengikuti jejak Rasulullah¬†Shalallahu ‘alaihi wasallam telah pergi meninggalkan dunia, setelah menghidupkan sunnah-sunnah Rasul, menumpas nabi-nabi palsu, membantah hujjah orang-orang yang sesat, di samping keadilannya dalam memimpin rakyat, caranya membagi sesuatu dengan sama rata, dan segala amalnya untuk mendapat keridhaan Allah.

‘Kemudian Allah menariknya ke dalam rahmat dan ridha-Nya; menyusulkannya dengan Nabi-Nya di sisi Rafiqil A’la (Kekasih yang Mahatinggi: Allah swt). Ia tidak menyukai dunia, dan dunia tidak menyukainya.

‘Sementara engkau, Allah taldukkan di tanganmu harta karun kisra dan kaisar, dan seluruh negeri mereka; harta-harta mereka diusung kepadamu; dan pemuka-pemuka bangsa di Timur dan Barat taat kepadamu. Kita mohon kepada Allah lebih banyak lagi limpahan nikmat-Nya, dan semoga Ia mengokohkan Islam.

‘Utusan-utusan kaum ‘ajam dan Arab telah berdatangan kepadamu, sementara Tuan masih mengenakan jubah dengan dua belas tambalan. Adakah engkau berkenan menggantikannya dengan kain halus yang akan menambah kewibawaanmu, kemudian disuguhkan makan siang dengan satu mangkuk besar, begitu pula pada waktu makan malamnya, yang engkau makan bersama-sama Muhajirin serta Anshar yang berada bersamamu?’

Mendengar hal itu, Umar pun menangis sejadi-jadinya, dan kemudian berkata, ‘Demi Allah, aku tanyakan kepadamu, adakah kamu tahu bahwa Rasulullah merasa kenyang untuk sepuluh hari atau lima atau tiga hari hanya dengan memakan sepotong roti dari gandum, dan beliau menyatukan antara makan siang dan malamnya, sampai akhir hayatnya?’

Aisyah menjawab, ‘Tidak.’

Lalu Umar menghadap Aisyah dan berkata, ‘Adakah kamu tahu bahwa Rasulullah didekatkan kepadanya makanan di atas meja makan yang tingginya sejengkal dari lantai, namun beliau menyuruh supaya makanan itu diletakkan di atas lantai dan meyuruh mengangkat meja makan tersebut?’

Aisyah dan Hafshah menjawab, ‘Benar.’

Selanjutnya Umar berkata kepada keduanya, ‘Kamu berdua adalah istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan Ummahatul Mu’minin. Kaum mukminin punya kewajiban terhadap kalian, terlebih lagi aku sendiri. Akan tetapi kalian datang menganjurkanku untuk suka kepada dunia. Sementara aku tahu pasti bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengenakan jubah dari bulu domba yang boleh jadi beliau menggaruk-garuk kulitnya karena kasarnya jubah itu. Adakah kamu berdua mengetahui hal tersebut?’

Keduanya menjawab, ‘Benar, kami juga mengetahuinya.’

Kemudian Umar melanjutkan perkataannya, ‘Adakah kamu tahu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berbaring di atas sehelai baju luarnya yang dibentangkan di atas seikat ranting kayu. Permadani yang di rumahmu itu, wahai Aisyah, siang hari jadi alas tempat duduk, sedangkan malamnya jadi tempat tidur. Saat kami datang menemui beliau, kami melihat bekas tikar di punggungnya.

‘Bukankah kamu yang menceritakan kepadaku, wahai Hafshah, bahwa pada suatu malam kamu membuat dua lapis tempat tidur Rasulullah hingga badan beliau merasakan empuknya dan beliau terlelap sepanjang malam. Rasulullah baru terjaga tatkala azan Bilal berkumandang, lalu beliau menegurmu, apa yang kau perbuat, wahai Hafshah? Apakah kamu menggandakan tempat tidurku malam ini, hingga aku tertidur sampai shubuh? Apa peduliku dengan dunia, dan apa peduliku dengan tempat tidur empuk yang kamu lalaikan aku dengannya?

‘Wahai Hafshah, bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah telah diampuni dosanya yang lalu dan akan datang, namun beliau melalui malam-nya dalam kelaparan, berbaring dalam keadaan sujud dan senantiasa ruku, sujud, menangis, dan tadharru’ (merendahkan diri kepada Allah swt) di sepanjang malam dan siang. Itu terus dilakukannya hingga Allah mencabut roh beliau dengan rahmat dan ridha-Nya. Oleh karena itu, Umar sama sekali tidak akan memakan makanan lezat, juga tidak akan mengenakan pakaian lembut, dia akan terus mengikut teladan dua sahabatnya, tidak akan mencampurkan dua bumbu dalam makanannya selain garam dan minyak, serta tidak akan memakan daging, kecuali pada setiap bulan yang habis suku cadanglain dari orang-orang.’

Kemudian Aisyah dan Hafshah keluar dan menceritakan hal tersebut kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara Umar terus demikian halnya sampai ia berpulang ke rahmatullah.” []

Sumber: Ar-Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam/Penulis: Said Hawwa/Penerbit: Gema Press,2003

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline