Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Ummu Dzar, Tanda Bakti Istri terhadap Suami

0 242

Inilah Ummu Dzar. Dia sudah mengetahui, sebelum masuk islam, bahwa patung itu tidak memberikan manfaat dan tidak mendatangkan mudarat. Karena itu hanyalah batu keras, dan menyadari pula bahwa ia pasti memiliki Pemelihara yang Mahamulia dan  Mahaagung dalam karunia-Nya.

Dia meninggalkan rumahnya di kabilahnya, Ghifar. Dia berusaha sampai ke Madinah bersama suaminya yang dia mengikhlaskan dirinya kepadanya. Dia mendengar dari suaminya apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Keduanya belajar hikmah dan akhlak mulia dari beliau.

BACA JUGA: Kebenaran Sabda Rasulullah Tentang Abu Dzar

Abu Dzar mengajarkan kepada istrinya, “Kekasihku, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, mengajariku untuk mengucapkan kebenaran, walau pahit rasanya.”

Ummu Dzarr berpegang teguh dengan ajaran-ajaran sang Nabi yang mulia, dia menggigitnya dengan gigi gerahamnya. Dia tidak menjadi lemah dihadapan segala ujian yang menimpa suaminya.

Diriwayatkan bahwa ketiak dia bepergian ke Damaskus, dia mendapati penduduk negeri itu lebih cenderung kepada dunia dan sangat mencintainya. Dia pergi menjumpai Mu’awiyah bin Abu Sufyan ke Damaskus. Terjadi perdebatan yang keras dan tegas antara Abu Dzar dan Mu’awiyah.

Hingga akhirnya Mu’awiyah mengadukan perdebatannya itu kepada Khalifah Utsman bin Affan.

Abu Dzar berkata kepada Utsman, “Apakah engaku mengizinkan aku untuk keluar dari Madinah?”

Untuk kebaikan maka Utsman pun mengizinkan permintaan Abu Dzar. Abu Dzarr pergi dan tinggal di suatu tempat bernama Rabadzah. Dia membangun masjid disana, dan Utsman pun memberinya sejumlah uang.

BACA JUGA: 3 Pesan Rasulullah kepada Abu Dzar dan Abu Abdurrahman bin Jabal

Tiada seorang istri pun yang rela tinggal jauh dari suaminya, maka Ummu Dzar menyusulnya dan memutuskan untuk tinggal seatap apapun yang terjadi. Meski banyak kesulitan hidup yang membuat suaminya sakit, disebabkan umur yang sudah tua serta tidak mampu menyesuaikan diri dengan cuaca disana.

Ummu Dzar terus melayani suaminya, tanpa merasa bosan, tanpa kenal lelah, dan mengeluh. Dia justru menjadi wanita yang menepati janji dan memurnikan diri dalam keimananya. []

Sumber: Keistimewaan 62 Muslimah Pilihan/Karya: Ali bin Nayif asy-Syuhud/Penerbit: Ar-Rijal/2013

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline