Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Singkat Penaklukkan Kota Mekkah

0

Di antara poin Perjanjian Hudaibiyah adalah siapa yang ingin bergabung menjadi sekutu kaum muslimin, maka ia bisa bergabung. Siapa yang ingin menjadi sekutu Quraisy, maka ia juga dipersilahkan untuk bersama mereka. Kabilah Khuza’ah menjadi sekutu Rasulullah ﷺ. Sedangkan seteru mereka, bani Bakr bergabung dengan kafir Quraisy.

Sejak dulu, perang dan sengketa selalu terjadi antara dua kabilah ini. Perjanjian damai ini dimanfaatkan oleh bani Bakr untuk membalas dendam terhadap orang-orang Khuza’ah. Mereka pun melakukan penyerangan mendadak di malam hari. Mereka bunuh orang-orang Khuza’ah. Parahnya, pengingkaran poin perjanjian itu didukung oleh Quraisy. Mereka membantu sekutu mereka dengan menyiapkan senjata dan pasukan untuk memerangi sekutu Rasulullah ﷺ. Segera setelah pengkhianatan itu, Amr bin Salim al-Khuza’I berangkat menuju Madinah. Ia mengabarkan kepada Nabi ﷺ tentang pengkhianatan Quraisy dan sekutunya.

Orang-orang Quraisy segera bergerak melangkah. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui perjanjian mereka dengan kaum muslimin. Namun apa yang mereka lakukan sudah tidak bermanfaat. Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kaum muslimin untuk menyiapkan pasukan menuju Mekkah.

1. Saat nabi dan 10.000 Pasukan Datang ke Mekkah

Pada tanggal 20 Ramadhan 8 H, pasukan kaum muslimin berangkat dari Madinah menuju Mekkah. Rasulullah ﷺ memimpin pasukan besar yang berjumlah 10.000 sahabat. Dan Abu Dzar al-Ghifari ditugasi menjadi pengganti beliau di Madinah. Sesampainya di daerah Juhfah, Rasulullah ﷺ berjumpa dengan pamannya, al-Abbas bin Abdul Muthalib, ia hijrah keluar Mekah sebagai seorang muslim. Kemudian al-Abbas mengendari bighal putih milik Rasulullah ﷺ. Ia mencari salah seorang Quraisy agar meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah ﷺ sebelum beliau memasuki Mekah.

Di saat bersamaan Abu Sufyan pun sibuk mengendap-endap, mencari tahu perkembangan keadaan. Al-Abbas bertemu dengannya. Lalu ia mengajak Abu Sufyan menemui Rasulullah ﷺ untuk meminta jaminan keamanan. Keduanya pun berangkat menemui Rasulullah ﷺ.

Ketika keduanya berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Celaka engkau Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah? Bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?” Selanjutnya

2. Saat Nabi Memasuki Ka’bah

Saat peristiwa penaklukan kota Mekkah, pasukan Islam memasuki Kota Mekah dan tidak ada kabilah Quraisy yang mampu menghadang mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya masuk ke dalam Masjid al-Haram. Beliau pun mencium Hajar Aswad. Saat itu kondisi Ka’bah begitu mengenaskan, setidaknya ada 360 berhala di sekelilingnya. Beliau pun menghancurkan Tuhan-Tuhan selain Allah tersebut. Beliau membaca firman Allah ﷻ,

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)

جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49).

Berhala-berhala itu hancur lebur di hadapan beliau. Setelah itu, barulah beliau melaksanakan thawaf.

Kemudian Nabi ﷺ memanggil Utsman bin Thalhah dan menyerahkan kunci Ka’bah kepadanya. Beliau meminta Utsman agar membuka Ka’bah, lalu beliau memasukinya. Nabi ﷺ melihat gambar-gambar di dalamnya. Segera gambar tersebut beliau hapus. Kemudian melaksanakan shalat di dalam Ka’bah. Setelah itu Selanjutnya

3. Khutbah Nabi dalam Fathu Mekkah

Di hari kedua, Rasulullah ﷺ berkhutbah:

“Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat. Tidak halal bagi orang sebelumku (berperang di dalamnya), ataupun orang sesudahku, demikian juga atas diriku, kecuali hanya sementara waktu. Tidak boleh diburu hewan-hewannya. Tidak boleh dicabut durinya. Tidak boleh menebang pepohonanya. Dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi mereka yang hendak mengumumkannya.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, 4059). Selanjutnya

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline