Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Shohibul Qur’an

0 2

Di malam hari dalam perjalanan pulang dari suatu ekspedisi militer, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya beristirahat di sebuah lembah.

Segera setelah Kaum Muslim menambatkan tali untanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa yang akan berjaga malam ini?”

Baca juga: Abbad bin Bisyir Bermimpi Melihat Langit Terbuka Untuknya

Suara lantang terdengar dari Abbad bin Bishr dan Ammar bin Yasir yang dengan sigap berkata, “Kami, wahai Rasulullah!”

Mereka adalah dua laki-laki yang disatukan dalam sebuah persaudaraan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sesaat setelah hijrah ketika Beliau tiba di Madinah.

Abbad dan Ammar pun berangkat menuju pintu masuk lembah untuk melaksanakan tugasnya.

Abbad yang melihat saudara seperjalanannya telah demikian lelah dengan santun menawarkan pilihan, “Engkau memilih waktu yang mana untuk beristirahat, di awal waktu atau pada penggal berikutnya?”

“Aku memilih untuk tidur di awal waktu,” jawab Ammar yang tak lama kemudian tertidur di sebelah Abbad.

Langit pada malam itu begitu cerah dan tenang. Taburan bintang-bintang di langit, kumpulan pepohonan dan tumpukan bebatuan bagaikan permainan simfoni yang indah memuji-Nya dalam diamnya. Abbad merasa damai. Tak nampak tanda-tanda yang mencurigakan maupun ancaman.

Related Posts

Ketika Hati Telah Dibalut Aqidah Suci

Lalu ia berpikir, mengapa tidak melewatkan waktu ini dengan ibadah dan mengaji Al-Qur’an?

Abbad memang telah jatuh cinta kepada Al-Qur’an tatkala ia mendengarkan lantunan indah ayat-ayat suci Al-Qur’an dari Musab bin Umayr. Kala itu Abbad berusia 15 tahun, dan semenjak itu Al-Qur’an selalu mendapatkan tempat yang istimewa di hatinya, sehingga ia pun membacanya siang malam dan mendapat julukan “Sahabat Al-Qur’an” (Shohibul Qur’an).

Pada saat yang sama, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud di rumahnya yang bersebelahan dengan masjid. Terdengar sayup-sayup di telinga Beliau suara Abbad yang tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan khusyu dan indah bagaikan saat Jibril a.s. menyampaikan ayat-ayat itu kepada Beliau dahulu.

Beliau lalu bertanya, “Wahai Aisyah, apakah itu suara dari Abbad bin Bisyr?”

“Betul, wahai Rasulullah,” jawab Aisyah.

“Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepadanya,” doa Sang Rasul dengan penuh kasih.

Demikianlah, pada malam yang sunyi di mulut lembah dataran Najad, seorang Abbad berdiri menghadapkan wajahnya ke kiblat untuk melaksanakan shalat, membaca Surah Al-Kahfi dengan suaranya yang menggetarkan. Surah Al-Kahfi terdiri dari seratus sepuluh ayat yang sebagian besar mengisahkan tentang keimanan, kebenaran dan kesabaran dalam rentang waktu yang relatif. []

Baca juga: Dimana Letak Gua Ashabul Kahfi?

Sumber: Companions of The Prophet/Penulis: Abdul Wahid Hamid

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline