Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Putra dan Putri Nabi dalam Menjalani Hari Raya (Bagian 2 Habis)

0

Idul Fitri yang seharusnya penuh suka cita, tapi pagi itu mereka bersedih. Sementara Abu Al Aswad Ad Du’ali, terus bertakbir di sepanjang jalan, kecamuk dalam dadanya sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tiba di depan beliau, ia pun mengadu, “Ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ad Du’ali terbata-bata.

BACA JUGA: Kisah Putra dan Putri Nabi dalam Menjalani Hari Raya (Bagian 1)

“Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” kata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, Ya Rasulullah. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?”

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik menengoknya.”

Tak berpikir lama, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun segera menuju rumah putrinya. Tiba sampai di halaman rumah, tak ada apa-apa yang dikhawatirkan oleh Ad Du’ali. Justru tawa bahagia mengisi percakapan antara Ali bin Abi Thalib, Fathimah dan kedua anaknya.

Bahkan, yang sedikit aneh, mata Ad-Du’ali sendiri menyaksikan, ternyata keluarga itu masih menyimpan sedikit kurma yang layak dikonsumsi untuk menyambut tamu yang datang. Mata Rasulullah pun sembab, beliau terharu, sebab ia sendiri melihat bekas-bekas makanan basi yang sudah disantap keluarga itu dan bau basinya masih menyengat. Tak terbendung juga butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam nan bersih.

Related Posts

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah,” demikian bibir Rasulullah berbisik lembut.

Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, ayahnya sedang berdiri tegak. Gandum basi yang dipegangnya terjatuh ke lantai.

“Ayah, kenapa engkau biarkan dirimu berdiri di situ, tanpa memberi tahu kami. Apakah ayah rela menjadikan kami anak yang tak berbakti?” ucap Fathimah spontan, lalu mencium tangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun pergi ke ruang tamu.

“Kenapa Ayah menangis? Kenapa pula sahabat ad-Duali mengikuti di belakang ayah?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Semoga kelak surga tempatmu Nak. Surga untukmu.”

Mereka yang ada di situ lalu menjawab bersama-sama, “Allahuma Aaamin”.

Air mata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba mengucur deras, saat melihat sendiri dengan matanya akan kesederhanaan dan kebersahajaan puteri beliau bersama keluarganya.

Di hari Idul Fitri, di saat semua orang berkumpul, berbahagia dengan hidangan aneka macam hidangan, keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam cukup tersenyum bahagia dengan gandum dan sepotong roti basi yang baunya tercium tak sedap. Demikianlah kesaksikan ad-Duali dan Ibnu Rafi’i atas keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Idul Fitri.

BACA JUGA: Doa yang Diucapkan Hasan Membuat yang Panas Menjadi Dingin

Ibnu Rafi’i berkata, “Itulah salah satu dampak pendidikan Ramadhan bagi keluarga Nabi, dan aku diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, setelah Rasulullah wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadis, maka terpaksa aku ceritakan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin untuk benar-benar bisa mengambil hikmah dari madrasah Ramadhan.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2) []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline