Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Putra dan Putri Nabi dalam Menjalani Hari Raya (Bagian 1)

0

Ada sebuah kisah mengharukan tentang keteladanan keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Ali bin Abi Thalib. Keteladanan Ali bin Abi Thalib ini disaksikan dua karibnya; Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali. Keduanya pernah ikut perang Jamal bersama beliau dan termasuk pembesar kelompok pendukung Ali sampai akhir hayatnya.

Dikisahkan, usai salat Asar, setelah seharian merasa sedih, karena bulan Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari masjid. Sesampainya di rumah, ia disambut sang istri tercinta Fathimah Az-Zahra dengan pertanyaan penuh perhatian.

BACA JUGA: Ketakutan Ali Bin Abi Thalib Menjelang Kewafatannya

“Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku,” demikianlah sapa Sayyidah Fatimah.

“Tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”

Ali hanya terdiam lesu, tak berapa lama kemudian ia minta pertimbangan sang istri untuk mensedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin.

“Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi.”

Sore itu juga, beberapa jam sebelum takbir berkumandang, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk mendorong pedatinya, yang terdiri dari tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Ia berkeliling dari pojok kota dan perkempungan untuk membagi-bagikan gandum dan kurma itu kepada fakir miskin dan yatim/piatu.

Sementara istrinya, Fathimah az-Zahra, sambil menuntun dua putranya Hasan dan Husein (cucu Nabi), nampak di tangannya memegang kantong plastik yang besar. Mereka sekeluarga, kompak mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni. Begitu mereka berjalan sampai larut malam, tangannya membagikan santunan, bibirnya bertakbir kepada Allah.

Esok harinya tiba shalat Idul Fitri, Ali bin Abi Thalib naik mimbar dan berkutbah di Masjid Qiblatain, potongan isi khutbah itu di antaranya tentang beberapa tanda-tanda orang yang mendapatkan “Taqwa” dari puasanya yang sebulan penuh, “Yaitu mereka yang peka hati nuraninya, sehingga menggerakkan tangannya untuk peduli kepada sesama, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman yang hangat, sebab kita semua sudah merasakan, bahwa lapar dan dahaga itu sesuatu yang berat.”

Begitulah Ali bin Abi Thalib, beliau tak akan pernah mengucapkan, sebelum ia sendiri sudah melakukan dan memberi keteladanan. Setelah Shalat ‘Id selesai dan hari masih sangat pagi, sahabat beliau, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut.

BACA JUGA:Keutamaan Ali Bin Abi Thalib yang Tidak Diumumkan oleh Rasulullah

Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka berdua, kedua hidung dua karib ini mencium aroma tak sedap, dari nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan disantapnya makanan yang tak layak konsumsi itu dengan lahapnya. Seketika itu Ibnu Rafi’i dan dan Al Aswad Ad-Du’ali berucap istighfar, sambil berpelukan dan menangis, karena kedua dada sahabat ini ada yang nyeri di sana.

Merasa tak kuat melihat pemandangan itu, mereka kemudian berpamitan sebelum berpelukan. Mereka pun pergi menjauh dari pemandangan menggetarkan itu. Di sepanjang jalan mata Ibnu Rafi’i berlinang air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya dan jatuh ke tanah seperti mengukir sebuah jejak kesedihan sampai ke kediamannya. []

Sumber: Kitab Sirrah Ashabu an-Nabi/Karya Syekh Mahmud al-Misri |Syiar A’lam An-Nubala’/Karya: Imam Adz-Dzahabi

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline