Picture: commons.wikimedia.org

Kisah Penyembelihan Ismail: Dialog Sebelum Penyembelihan (Bagian 2 Habis)

Keimanan Nabi Ibrahim as. kali ini diuji dengan perintah qurban atau penyembelihan anaknya,Ismail. Bagi seorang ayah ini bukan hal yang mudah karena buah hati adalah sosok yang akan senantiasa disayangi oleh seorang ayah. Jarak antara Syam dan Makkah yang harus ditempuh dengan jarak jauh serta jarang bertemunya ayah dan anak ini, tidak membuat kasih sayang keduanya pudar. Tetapi kasih sayang ini semakin kuat kala keduanya bertemu.

Meskipun masih tergolong remaja, Ismail adalah sosok anak yang beriman kepada Tuhannya dan patuh kepada ayahnya. Ia sama sekali tidak ragu terhadap perkataan ayahnya yang pada dasarnya merupakan perintah Ilahi.

Di saat Ibrahim telah bersiap-siap mengambil tali untuk mengikatnya dan pisau untuk menyembelihnya, Ismail berkata kepadanya, “Wahai ayahku, jika engkau ingin menyembelihku maka ikatlah diriku dengan kuat agar sedikitpun darahku tidak mengenaimu dan tidak mengurangi pahalaku. Sesungguhnya kematian sangat pedih sekali dan aku tidak dapat menahan sabetan pisau saat disembelih. Oleh karena itu, asahlah pisau untuk menyembelihku agar nyawaku dengan cepat terenggut. Jika engkau menidurkanku saat disembelih, maka sungkurkan wajahku ke tanah agar rasa iba tidak menyelimuti dirimu dan tidak mengurungkan niatmu untuk melaksanakan titah Ilahi. Apabila engkau ingin mengembalikan bajuku kepada ibuku, maka engkau bisa melakukannya dan semoga hal ini lebih baik dan dapat menghiburnya.”

Ibrahim menjawab, “sebaik-baik penolong untuk melaksanakan perintah Ilahi adalah engkau wahai anakku.”

Setelah itu, Ibrahim mengambil pisaunya, menguatkan ikatan anaknya, menyungkurkan wajahnya agar tidak melihatnya, dan lalu mulai mengarahkan pisah kebagian leherya.

Namun sebelum Ibrahim mengayunkan pisau yang sudah berada di leher anaknya untuk disembelih, tiba-tiba ada suara yang menyeru, “wahai Ibrahim, engkau telah mempercayai mimpimu dan sekarang tebusan anakmu adalah seekor kabsy yang gemuk.”

Dengan sigap Ibrahim menolehke arah seruan dan di sana ia menemukan seekor kabsy berwarna putih dan bertanduk. Dari kejadian tersebut, Ibrahim mengetahui bahwa Allah Swt. telah mengirimkannya sebagai tebusan untuk anaknya, Ismail.

Akhirya, Ibrahim langsung melepaskan tali pengikat dan dirinya, dan kemudian menciumnya dengan penuh haru, dan tangisan gembira. Ibrahim berkata, “wahai anakku, di hari ini dirimu dipersembahkan lagi untukku.”

Kabsy atau kambing yang dikirim Allah Swt, langsung diikat Ibrahim dan disembelihnya sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Jelas cobaan penyembelihan buah hatinya termasuk cobaan Ilahi yang paling berat diterimanya dan anaknya.

Setelah kisah penyembelihan Ismail di atas, sebenarnya usia ibunya, Hajar, sudah uzur. Tak lama kemudian, sang ibu pun berpulang ke rahmatullah. []

Sumber: Sirah Nabawiyah For Kids: Muhammad Sang Teladan/ Abdul Mun’im al-Hasyimi/Mirqat/ 2015

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline