Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Penolakan Bani Israil hingga Kemenangan Raja Thalut

0

Nabi Daud adalahketurunan yang ke-12 dari Nabi Ibrahim dari anaknya, Nabi Ishaq. Beliau menjadi raja sesudah terbunuhnya raja Thalut, sedangkan pada masa itu ada pula raja kafir, bernama Jalut.

Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Baqarah [2] ayat 246:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”

Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.”

BACA JUGA: Inilah Gambaran Wanita-wanita Setelah Ditinggal Orang Terdekat Paska Perang Uhud

Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”

Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

Kaum Israil tidak mau menerima keteranagn Nabinya, seraya berkata, “Bagaimana Thalut akan menjadi raja sedangkan dia lebih rendah dari kami dan kami mempunyai harta yang banyak?”

Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Baqarah [2] ayat 247:

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.”

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Setelah Thalut menjadi raja, maka keluarlah Thalut bersama balatentaranya untuk memerangi orang-orang durhaka (Jhalut). Waktu itu Thalut berkata, “Kita melalui sungai ini, tetapi Allah akan menguji keimananmu, dengan melarang meminum air ini. Barangsiapa yang meminumnya, maka mereka tidak termasuk golongan orang yang beriman.”

Tetapi apa yang terjadi?

Mereka meminum air sungai sebanyak-banyaknya dengan alasan mereka sangat haus. Adapun orang-orang yang beriman tidak mau meminum air itu, keculai seteguk saja untuk melepaskan dahaganya.

Setelah Thalut menyebrangi sungai dan telah dekat untuk berperang, mereka yang kurang keimanannya mengundurkan diri. Akan tetapi, orang-orang yang beriman kepada Allah tidak merasa takut dan gentar berhadapan dengan musuh yang banyak, walaupun mereka hanya sedikit.

Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Baqarah [2] ayat249-251:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”

Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

BACA JUGA: Mukjizat yang Hanya Dimiliki Nabi Daud

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. []

Sumber: Qishashul Anbiya Sejarah 25 Rasul/Karya: Ny. Hj. Hadiyah Salim/Penerbit: Pt Al-Ma’arif Bandung

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline