Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Muhammad Al-Fatih dan Para Pencari Ilmu

0

Terdapat dua Ali pada jaman Muhammad Al-Fatih, yang satu datang dari dataran Persia, dan yang lain datang dari Transoxiana. Tidak tahu daerah mana yang dimaksud dengan “Dataran Persia”. Mungkin Herat, atau mungkin juga Shiraz. Namun, tempat lahir Ali yang kedua sudah jelas seperti yang sejarah tuliskan, yaitu Samarkand. Nama mereka boleh jadi sama.

Akan tetapi, nama belakang mereka berbeda. Yang pertama disebut Ali Tusi, dan yang lain mereka sebut Ali Kushji. Ali Tusi merupakan sosok “Badi’uzzaman” yang merantau ke Anatolia pada zaman Murad II untuk menegakkan tonggak ilmu dan filsafat setelah menyelesaikan pendidikannya di Iran.

Ia menunggu saat Fatih menyulap kota Istanbul menjadi taman mawar. Ia menjadi garda terdepan salah satu gerakan ilmiah Istanbul yang bermarkas di salah satu ruangan gereja Pantokrator. Sebagai balasan dari pelayanannya itu, ia diberikan sebuah dusun untuk dijadikan rumah besarnya.

Berdasarkan riwayat yang ada, Fatih memberikan perhatian penuh pada madrasah-madrasah dengan mengunjunginya tanpa memberi kabar sebelumnya. Suatu hari, tibalah waktunya mengunjungi madrasah Ali Tusi. Ia pergi bersama Patih Mahmud Pasha yang juga seorang cendekiawan. Mereka mengikuti pelajaran Tusi.

Tusi menyampaikan permata-permata ilmu dari karya-karya Jurjani dengan cakap. Fatih, yang memang memiliki dasar pemahaman mengenai bab yang tengah diajarkan itu pun menyukai cara Tusi mengajarkannya. Segera saja ia memakaikan kaftan khusus dan memberikan beberapa hadiah kepada sang guru.

Fatih berkelut dalam dunianya sendiri yang bergejolak bagai lautan. Ia mulai terpesona dengan cara mengajar sang guru. Ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengingat kembali perdebatan Ghazali dan Ibn Rushd di Kordoba yang telah lama hilang dan hampir dilupakan sejarah.

Related Posts

Dia melihat sekeliling sambil berpikir, adakah yang mampu menghidupkan kembali perdebatan kuno yang tengah lama menanti pangeran berkuda putihnya itu. Semua orang sependapat bahwa sosok yang mampu menjawab tantangan itu adalah Hocazade dan Ali Tusi. Keduanya lalu diberikan tugas yang sama, yaitu membandingkan dan mengupas diberikan tugas yang sama, yaitu membandingkan dan mengupas tuntas ketidaksesuaian perdebatan antara Ghazali dan Ibn Rushd.

Hocazade mampu menyelesaikan tugas ini dalam waktu hanya 4 bulan, sementara Ali Tusi dalam waktu 6 bulan. Karya keduanya disajikan ke hadapan Sultan Fatih. Ia pun kemudian mengirimkan karya-karya tersebut kepada dewan juri yang dibentuknya, yang terdiri atas para ilmuwan dan cendekiawan. Keputusan dewan juri akhirnya diumumkan. Hasilnya, seperti perkiraan semua orang, karya milik Hocazade jauh lebih berkesan.

Namun, Fatih tahu bahwa hati para ilmuwan itu sangat halus, mudah terluka. Oleh karena itu, hadiah sebesar 10.000 akce dibagi sama rata untuk keduanya, seolah-olah mereka berdua sama-sama memenangi perlombaan.

Karena karya Hocazade dianggap lebih baik, Sultan Fatih menambahkan hadiah berupa seekor keledai unggulan. Di zaman itu, keledai adalah tunggangan yang cukup mahal. Jika saja Fatih tahu bahwa penambahan hadiah itu berarti meredupkan petualangan Tusi di Ustmaniyah, mungkin dia akan mencari cara lain untuk menjaga hati Tusi.

Namun, nasi telah menjadi bubur, hati Ali Tusi terlanjur hancur. Dia pun meninggalkan dusun mulia yang selama ini diamanahkan kepadanya dan pergi menuju Tabriz. []

Sumber: Muhammad Al-Fatih/Penulis: Mustafa Armagan/Penerbit: Kaysa Media,2012

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline