Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Dijatuhkannya Nabi Yusuf ke Sumur

0

Rasa sayang Nabi Ya’qub terhadap Nabi Yusuf ternyata membuat saudara-saudara lainnya iri hati. Mereka menganggap Nabi Ya’qub, ayah mereka, pilih kasih dan tidak menyayangi mereka seperti beliau menyayangi Nabi Yusuf.

Kecemburuan mereka perlahan-lahan mulai diperlihatkan. Mereka tampak tidak menyukai Nabi Yusuf dan selalu menjauhinya. Bahkan Bunyamin, adik Nabi Yusuf pun ikut dimusuhi karena dianggap sama-sama menjadi putra kesayangan ayah mereka.

Melihat sebelas orang putra-putrinya yang lain memusuhi Yusuf. Nabi Ya’qub pun semakin sayang dan menjaga Yusuf dari gangguan saudara-saudaranya. Beliau tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan putra kesayangannya itu. Oleh karena itu, ketika Nabi Yusuf mendapatkan mimpi sebagai petunjuk dari Allah Subhaanahu wa ta’ala perihal kenabiannya di masa yang akan datang, sang ayah melarang Nabi Yusuf menceritakan mimpi itu kepada saudaranya yang lain. Beliau khawatir mereka akan semakin iri terhadap keberuntungan yang diperoleh Nabi Yusuf.

Tanpa disadari, saudara-saudara Nabi Yusuf ternyata sudah memendam perasaan benci yang dalam terhadapnya. Mereka merencanakan untuk membunuh Nabi Yusuf agar ayah mereka dapat membagi kasih sayangnya kepada mereka semua.

Rencana untuk membunuh Nabi Yusuf pun dibicarakan di antara mereka secara diam-diam. “Bagaimana cara kita membunuhnya?” tanya salah seorang saudara Nabi Yusuf.

“Kita pukul saja kepalanya dengan batu,” jawab yang lainnya.

‘Jangan, kita umpankan saja pada serigala-serigala buas sehingga mereka memakan tubuh Yusuf sampai habis!” bantah saudara yang lain lagi.

“Kita buang saja dia ke tempat yang sangat jauh!” usul yang lainnya.

Mereka saling berdebat mencari cara untuk membunuh Nabi Yusuf. Sampai akhirnya, salah seorang kakak Nabi Yusuf yang bernama Yahuda menengahi perdebatan itu. Yahuda adalah orang yang cukup bijaksana. Dia putra keempat Nabi Ya’qub. Walaupun tidak bersalah. Dia hanya menerima kasih sayang berlebih yang diberikan ayahnya tanpa memintanya. “Membunuh adalah perbuatan yang sangat kejam dan dilarang oleh agama. Ayah kita adalah seorang nabi. Mana mungkin kita melakukan perbuatan tercela seperti itu,” kata Yahuda.

“Lalu apa usulmu?” tanya yang lainnya.

“Kita lemparkan saja Yusuf ke dalam sebuah sumur kering di tempat para kafilah berhenti untuk beristirahat. Dengan cara seperti itu. siapa tahu mereka menemukan Yusuf dan menolongnya. Setelah itu, mereka bisa mengajak Yusuf ikut bersamanya atau dijual sebagai budak! Setelah itu, kita pun bertobat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala atas segala kesalahan yang sudah kita perbuat. Bukankah kemudian kita akan terhindar dari dosa?” Akhirnya mereka semua setuju dengan usulan Yahuda tersebut.

Mereka kemudian berembuk kembali mencari cara mengajak Yusuf pergi. Nabi Ya’qub selalu menjaga Nabi Yusuf. Mereka bingung bagaimana caranya Yusuf bisa diajak pergi? Namun, keesokan harinya, mereka merayu Nabi Ya’qub agar diperbolehkan mengajak Yusuf bermain.

Walaupun awalnya Nabi Ya’qub tidak mengizinkan dan sangat khawatir dengan keselamatan Nabi Yusuf, akhirnya beliau mengizinkan juga Yusuf diajak bermain oleh kakak-kakaknya.

Alangkah gembiranya saudara-saudara Nabi Yusuf ketika diberi izin oleh ayah mereka. Mereka sudah membayangkan Yusuf tidak akan kembali lagi ke rumah dan tidak akan menghalangi perhatian dan kasih sayang Nabi Ya’qub terhadap mereka.

Tanpa berpikiran buruk, Yusuf mengikuti kakak-kakaknya pergi bermain. Tapi, alangkah kagetnya begitu jauh dari rumah. perlakuan mereka berubah menjadi kasar. Nabi Yusuf merasakan tubuhnya ditarik-tarik atau didorong-dorong dengan kata-kata makian yang membuat hatinya sedih. Beliau tidak mengerti mengapa saudara-saudaranya begitu membencinya.

Di dekat sebuah sumur yang sudah kering, mereka meminta Yusuf membuka bajunya. Karena takut, Nabi Yusuf menuruti permintaan mereka. Namun, beliau merasa kaget ketika mereka mendorong tubuhnya mendekati lubang sumur. Melihat gelagat tidak baik itu, Nabi Yusuf mencoba memberontak. Beliau akan lari, tapi saudara-saudaranya menghalanginya. Dengan kasar, mereka menariknya kembali mendekati lubang sumur.

Walaupun sudah mencoba melawan dengan sekuat tenaga. saudaranya terlalu banyak sehingga Nabi Yusuf hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala untuk keselamatannya. Dengan satu dorongan yang sangat keras, Nabi Yusuf merasakan badannya terjerembap dan masuk ke sumur yang cukup dalam. Badannya membentur dasar sumur dan terasa begitu sakit.

Di atas lubang sumur, saudara-saudara Nabi Yusuf tertawa gembira. Mereka akhirnya berhasil menyingkirkan Nabi Yusuf yang sudah dianggap sebagai penghalang kasih sayang ayahnya terhadap mereka. Mereka mendengar adik mereka di dasar sumur menjerit-jerit meminta pertolongan. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mau peduli. Bahkan, mereka pun seakan tidak mendengar ketika Nabi Yusuf menangis dengan perasaan sedih.

Dengan membawa pulang pakaian Nabi Yusuf, mereka pulang kembali ke rumah. Tidak lupa, mereka melumuri darah kambing pada baju itu. Dengan rasa sedih yang di-buat-buat, mereka mengabari Nabi Ya’qub bahwa Yusuf sudah diterkam dan dimakan serigala. Mereka berpura-pura menangis agar ayah mereka percaya. Nabi Ya’qub merasakan ini adalah rencana jahat putra-putranya untuk menyingkirkan Nabi Yusuf. Beliau melihat baju Nabi Yusuf tidak terlihat robek seperti terkena cakaran serigala meskipun terlihat penuh darah. Walaupun diliputi perasaan yang sedih. Nabi Ya’qub hanya bisa pasrah kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala seraya memohon keselamatan bagi putranya, Yusuf. []

Sumber: 99 Kisah Menakjubkan Dalam Al-Quran/ Penulis: Ridwan Abqary/ Penerbit: Mizan, 2009

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline