Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Cinta Sang Pengantin Kecil

Ummu Ruman datang menghampiri Aisyah ketika ia sedang bermain-main di atas kayu ayunan bersama teman-teman sepermainannya. Ia berteraiak memanggil Aisyah dan menghampirinya. Namun Aisyah tidak tahu apa yang ibunya inginkan.

Tangan Aisyah di tarik dan ibunya memasukan Aisyah ke dalam rumah, yang di dalamnya sudah ada wanita-wanita Anshar yang menyambutnya seraya berkata, “Semoga kebaikan dan keberkahan tercurah padamu, beserta burung yang terbaik (makdsudnya keberuntungan).”

Terdapat suatu riwayat yang mengungkapkan mengapa Rasulullah memilih Aisyah yang masih bau kencur untuk dijadikannya pendamping hidup, Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi melihatmu selama tiga hari berturut-turut. Malaikat datang kepadaku dengan membawa gambarmu dalam balutan secarik kain sutera putih. Ia berkata, ‘Ini adalah (calon) istrimu.’ Aku pun membuka kain sutera yang menutupi wajahmu itu. Ketika ternyata itu adalah kau, maka aku katakana, ‘Jika memang dari sisi Allah, niscaya Allah mewujudkannya.’ “

Kisah Rasulullah dan Aisyah ternyata tidak begitu saja langsung menikah. Hal itu dikarenakan Rasulullah mempertimbangkan usia Aisyah yang masih sangat belia dan beliau tidak  tega mengambil masa kanak-kanaknya.

Meski begitu, rasa cinta Rasulullah terhadap calon istrinya itu ternyata tak mampu ditunda. Beliau selalu berpesan kepada ibundanya Aisyah, agar terus membimbing putri kecilnya itu, “Wahai Ummu Ruman, nasihatkanlah hal-hal baik kepada Aisyah dan periharalah kebaikan diriku padanya.”

Ibunya bercerita tentang bagaimana persiapan dirinya menyambut pernikahannya, “Ibuku menerapiku agar terlihat gemuk ketika beliau ingin mempertemukan aku kepada Rasulullah.” Terapi itu dilakukan dengan memakan mentimun dan kurma basah sampai ia terlihat benar-benar gemuk secara proposional.

Ketika waktu yang sudah ditentukan tiba, maka sang pengantin pelaku hijrah akhirnya sampai ke Madinah. Di sana kedua kekasih bertemu dan memadu kasih. Keceriaan pun menyebar ke seluruh penjuru Madinah dan kegembiraan menebar dari segala tempat. []

Sumber: Aisyah yang cerdas dan yang dicintai/ Penulis: Ahmad Ibnu Salim Baduwilan/ Penerbit: Irsyad Baitus Salam

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More