Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Ahnaf bin Qais: Maukah Aku Berikan Kabar Gembira kepada Anda?

Ahnaf bin Qais, pemuka Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab. Ahnaf merupakan putra dari Qais bin Muawiyah. Di tahun ketiga sebelum Hijriyah, Qais bin Muawiyah as-Sa’di mendapatkan karunia seorang bayi laki-laki. Dia diberi nama adh-Dhahhak, tapi orang-orang menyebutnya Ahnaf karena kakinya yang bengkok (seperti huruf X), suatu julukan yang memang lebih pas daripada namanya sendiri. Sehingga julukan tersebut lebih terkenal bersemat pada dirinya dibandingkan dengan nama aslinya.

Ayahanda Ahnaf yang bernama Qais bukanlah seorang pemuka dari kaumnya, bukan pula dari golongan yang rendah. Kedudukan mereka adalah pertengahan. Ahnaf lahir di sebelah Barat Yamamah, tepatnya di daerah Najd. Ahnaf kecil tumbuh sebagai yatim karena ayahnya terbunuh ketika dia masih sangat kecil. Cahaya Islam bersinar di hati Ahnaf ketika dia remaja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus beberapa sahabat kepada kaum Ahnaf bin Qais beberapa tahun sebelum wafatnya untuk menyeru mereka kepada Islam. Mereka menjumpai tokoh-tokoh kaum itu sambil memberikan dorongan iman dan menawarkan Islam

Orang-orang itu terdiam sejenak mendengar ajakan para sahabat. Mereka berpandang-pandangan ketika tiba-tiba Ahnaf muda yang juga hadir angkat suara, “Wahai saudara-saudaraku, mengapa kalian mesti ragu? Demi Allah utusan yang datang kepada kalian ini adalah sebaik-baik utusan. Mereka mengajak kepada akhlak yang luhur dan melarang dari yang cela. Demi Allah, tiada yang kita lihat dari mereka selain kebaikan, maka sambutlah seruan hidayah ini, niscaya kalian akan bahagia dunia dan akhirat.”

Akhirnya kaum itu memeluk Islam secara serentak bersama Ahnaf. Kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Ahnaf tidak disertakan karena umurnya yang masih terlalu muda. Sehingga dia tidak mendapatkan kehormatan sebagai salah satu sahabat. Namun demikian, dia tidak terhalang untuk mendapati ridha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa beliau kepadanya.

Ahnaf menuturkan ceritanya, “Suatu ketika pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah dan berjumpa dengan seseorang yang sudah aku kenal. Dia memegang tanganku seraya berkata, “Maukah aku berikan kabar gembira kepada Anda?”

Aku berkata, “Ya tentu saja.”

Dia berkata, “Ingatkah Anda sewaktu aku diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru kaum Anda kepada Islam? Saya membujuk mereka dan menawarkan Islam, kemudian Anda mengatakan sesuatu kepada mereka?”

Aku menjawab, “Ya, aku ingat.”

Dia melanjutkan, “Setibanya saya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang apa yang Anda katakan, beliau berdoa, “Ya Allah, berikan ampunanmu kepada Ahnaf.”

Maka Ahnaf bekata, “Tidak satu pun dari amalanku yang aku harap bisa lebih bermanfaat di hari kiamat kecuali doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.” []

Sumber: Mereka adalah Para TAbi’in/ Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’at Basya/ Penerbit: At-Tibyan, 2009

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline