Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah, Keutamaan Islam Menghapus Dosa-dosa Terdahulu

0

Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi. Kehadiran Abdulllah bin Abi Umayyah dalam peristiwa ini cukup menarik. Ia memiliki kedekatan dengan Islam dan kekufuran dalam level yang sama. Ia adalah sepupu Abu Jahal dari pihak ayah. Di sisi lain, ia juga sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ibu. Ibunya adalah Atikah bin Abdul Muthalib, bibi Rasulullah sekaligus saudari perempuan Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Tapi, karena nasab itu dari jalur ayah, jadilah Abdullah bin Abi Umayyah seorang Makhzumi (berasal dari bani Makhzum).

Selain memiliki kedekatan nasab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki sifat mulia. Ia laki-laki yang cerdas, bijak, dan dermawan. Kedermawanannya terwarisi dari sang ayah, Abi Umayyah, yang dikenal sebagai Zadur Rukab. Karena kebiasannya menanggung makanan dan perbekalan semua orang yang bersafar dengannya (ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, 11/539).

Alasan lain yang membuat Abdullah bin Abi Umayyah benci terhadap Islam adalah anggapannya bahwa Islam memecah belah hubungan keluarga. Saudarinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, memeluk Islam bersama suaminya Abu Salamah. Hubungan kekerabatan pun retak. Ia memandang beliau adalah pemecah belah keharmonisan keluarganya. Permusuhan dengan Islam dan Nabi Muhammad pun ia kumandangkan.

Disebutkan, Abdullah bin Abi Umayyah menyatakan kepada Rasulullah, sekiranya beliau bisa mengeluarkan mata air di Mekah, ia akan beriman. Berkaitan dengan ini, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya.” [Quran Al-Isra: 90-94]. (ath-Thabari, Jami’ul Bayan 17/558).

Oleh karena itu, Abdullah bin Abi Umayyah datang bersama Abu Jahal mengupayakan segala kemampuannya menghalangi manusia dari Islam. Ia meyakini usaha yang ia lakukan ini adalah demi kemaslahatan pamannya dari pihak ibu, Abu Thalib.

Hari-hari terus berlalu, debu-debu kekufuran Mekah pun tertiup angin tauhid. Kebenaran datang menggusur kebatilan. Mekah menjadi negeri muslim melalui peristiwa Fathu Mekah. Lebih dari 10 tahun sudah Abu Thalib wafat. Abdullah bin Abi Umayyah mulai mempertimbangkan memeluk Islam. Ia keluar bersama Abu Sufyan. Berharap selamat dari kemungkinan hukuman mati. Keduanya meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertemu. Awalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menemui kedua tokoh ini, walaupun keduanya telah melobi beliau melalui Ummu Salamah, saudari Abdullah bin Abi Umayyah yang telah menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Abu Sufyan bin al-Harits dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tsaniyah al-‘Iqab (dekat Juhfah) antara Mekah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi.

Read More

Kita Bukanlah Seperti Rasulullah

Ummu Salamah berkata kepada Nabi, ‘Wahai Rasulullah, anak pamanmu dan anak bibimu serta kerabat istrimu (iparmu) ingin bertemu.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku tidak ada keperluan dengan mereka. Adapun anak pamanku (Abu Sufyan), ia sangat berlebihan dalam merusak kehormatanku. Sedangkan anak bibi sekaligus iparku, ia telah mengatakan padaku apa yang ia katakan sekwatu di Mekah’.”

Saat keduanya mendengar kabar penolak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Sufyan yang bersama anaknya saat itu mengatakan, “Demi Allah, Rasulullah mengizinkan kita atau aku akan membawa anakku ini pergi ke suatu tempat. Biar kami mati kehausan atau kelaparan di sana. Ketika ucapan itu sampai kepada Rasulullah, beliau merasa iba pada keduanya. Kemudian mempersilahkan keduanya masuk. (HR. al-Hakim 4359. al-Hakim mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Muslim, walaupun ia tidak meriwayatkannya).

Setelah memeluk Islam, Abdullah bin Abi Umayyah memegang teguh ajaran Islam dengan baik. Imannya kokoh. Ia turut serta dalam Perang Hunain bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia syahid di Perang Thaif. Wafat disaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab 3/868, Ibnul Atsir: Asadul Ghabah 3/176, Ibnu Hajar al-Asqalani: al-Ishabah 4-12/10).

Luar biasa sekali lika-liku hidup Abdullah bin Abi Umayyah radhiallahu ‘anhu. Dari seseorang yang memusuhi Rasulullah dan Islam. Menantang Nabi memancarkan mata air dari bumi, baru ia mau memeluk Islam. Membuat Nabi sangat bersedih, karena menjadi sebab wafatnya paman beliau tanpa mengucapkan syahadat seperti yang beliau harapkan. Kemudian memeluk Islam dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya syahid di Perang Thaif. Segala puji bagi Allah Yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

Demikianlah keutamaan Islam, ia menghapus dosa-dosa terdahulu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Amr bin al-Ash, “Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya
?” (HR. Muslim).

Keislamannya pun baik sehingga Allah wafatkan ia dalam keadaan husnul khotimah. “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya).

Sebagaimana sosok Abu Jahal diperankan oleh person yang berbeda di setiap zaman dan tempat, demikian pula sosok Abdullah bin Abi Umayyah. Kisahnya juga terulang di kurun perjalanan kehidupan. Hanya saja pemerannya yang berbeda. Betapa banyak kita melihat seseorang, yang sebenarnya ia dekat dengan Islam dan iman. Tapi ada penghalang duniawi yang menutupinya dari cahaya Islam. Saat tabir penghalang itu hilang, ia menjadi seorang yang kuat imannnya. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan wafat dalam keadaan berjihad di jalan Allah. []

Baca juga:Ia Tidak Akan Membiarkan Kebaikannya Lenyap karena Ghibah

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More