Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketika Umar Ibnu Abdul Aziz Menceritakan Suasana Itu

0 1

Umar Ibnu Abdul Aziz berkata, “Kubur yang melubangi kafan dan mencabik-cabik badan, menyerap darah dan memakan daging, apakah kamu melihat apa yang dilakukan cacing-cacing itu terhadap mereka?

“Menghapus warna, menimbun wajah, meremukan tulang, memisahkan anggota badan, dan mencabik-cabik sosok yang tak berdaya itu, apakah kamu melihat, bukanlah malam dan siang bagi mereka sama?

“Bukankah mereka berada dalam kegelapan yang mencekam?

“Berapa banyak wajah laki-laki dan perempuan yang halus menjadi hancur, tubuh mereka jauh dari leher mereka, bola mata meleleh di atas pipi, mulut dipenuhi darah dan nanah, demi Allah, tidak lama kemudian tulang belulang mereka pun hancur. Mereka meninggalkan kebun-kebun, tidak lama kemudian mereka telah berada dalam ruangan yang sempit.

“Wahai calon penghuni kubur esok, apa yang membuatmu terpedaya oleh dunia. Di mana rumahmu yang luas?

“Dan di mana pakaianmu yang halus?

“Duhai, bagaimana kamu dapat bertahan terhadap kerasnya tanah?

“Dan dari pipimu yang mana kehancuran itu akan dimulai?

Related Posts

Selamat Jalan Ahli Fikih Madinah

“Wahai umat manusia, bukankah kamu melihat setiap hari kamu mengurusi orang yang datang atau pergi menuju Allah swt, kamu meletakkannya di dalam liang lahad, berbantalkan tanah, meninggalkan orang-orang yang dikasihi, dan tidak lagi bisa berbuat apa-apa.”

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada orang yang melihatnya merasa heran karena tubuhnya kurus dan berubah warnanya, “Bagaimana kamu seandainya melihatku tiga hari setelah kematianku, saat aku sudah dimasukkan ke dalam liang kuburku, bola mataku meleleh di atas pipiku, dan mulutku mengalirkan nanah dan cacing…

“Lalu apa yang akan disombongkan?

“Bukankah nasibku akan sama dengan bangkai tikus, hanya pakaian terakhirku yang membedakannya?

“Hanya lantunan Keagungan yang diperdengarkan membuat raga ini dimuliakan olehnya.

“Tapi tidak selamanya. Raga akan menjadi bangkai, bangkai yang menjadi makanan hewan tanah.

“Lalu, apa yang akan ditunggu? Wahai calon hidangan hewan tanah!” []

Sumber: Menggapai Nikmatnya Beribadah Dalam Konsep Pendidikan Islam/ Penulis : Khalid Sayyid Rusyah/ Penulis: Abdurrahim,2009

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline