Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketika Sa’id bin Amir Dianggap Lambang Kemalasan

0

Khalifah Umar bin Khattab memang keras terhadap setiap bentuk kezaliman dan kemungkaran. Namun, ia bersikap kasih sayang terhadap setiap kebenaran dan kebajikan.

Suatu hari, Umar menerima laporan atas salah satu pejabatnya yang bernama Sa’id bin Amir al-Jumahi. Oleh rakyatnya, Sa’id dianggap lambang kemalasan. Kemudian Umar memanggil Sa’id dan mempertemukannya dengan orang-orang yang mengadukannya. Umar bicara kepada mereka, “Bicaralah!”

Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ia tidak pernah keluar menemui kami kecuali saat hari sudah siang.”

Umar berpaling kepada Sa’id agar ia menjawab gugatan mereka. Sa’id menjawab, “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku enggan membicarakan alasan ini. Sesungguhnya keluargaku tidak memiliki pembantu, karenanya aku harus membuat adonan roti bersama mereka hingga matang. Setelah itu, barulah aku berwudu dan keluar menemui rakyatku.”

Umar gembira mendengarnya, sungguh ia tidak salah memilih seorang lelaki yang dipercaya dalam hal agamanya dan ia telah memilihnya sendiri. “Lanjutkan tuduhan berikutnya!” Umar berpaling kepada si pengadu.

Mereka berkata, “Ia tidak menerima pengaduan seorang pun pada waktu malam.”

Sa’id menjawab, “Hal ini pun demi Allah, aku sangat benci mengatakannya. Aku telah menghabiskan waktu siangku untuk mereka dan aku ingin menghabiskan waktu malamku bersama Allah.”

“Apa lagi yang hendak kalian adukan?” tanya Umar seraya mengarahkan pandangannya kepada para pengadu.

“Dalam sebulan, ada satu hari dia tidak menerima siapa pun,” ujar mereka.

Sa’id kembali membela, “Aku tidak punya pembantu untuk mencuci baju-bajuku, jadi pada hari itulah aku mencuci pakaianku dan aku menunggunya hingga kering, dan untuk sampai kering membutuhkan waktu seharian.”

Dengan dipenuhi kegembiraan dan kesenangan, Umar berkata, “Mahasuci Allah yang tidak menyia-nyiakan firasatku.”

Sungguh, Khalifah Umar bin Khattab mencintai pejabatnya yang amanah dan jujur dalam mengemban tugas. []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline