Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketika Jenazah Imam Ahmad bin Hambal Hendak Dimakamkan

Ketika Muhammad bin Thahir menerima kabar bahwa Imam Ahmad bin Hambal telah wafat, ia segera mengutus pengawalnya bersama dua orang pelayan untuk membawakan bungkusan-bungkusan kecil berisi kain kafan. Ia pun menulis surat yang tertulis, “Ini mewakili Khalifah. Seandainya Khalifah sedang berada di sini, sungguh ia juga akan mengirimkan ini.”

Namun putra-putra Imam Ahmad tidak sudi mengkafannya dengan kain-kain tersebut, serta mengirimkan surat balasan kepada Muhammad bin Thahir. Dengan halus mereka tuliskan di dalamnya, “Amirul Mu’minin pernah membebaskan Imam Ahmad dari sesuatu yang ia tidak sukai di masa hidupnya, dan itu sudah cukup.”

Kemudian mereka mengambil kain yang telah ditenun oleh jariyah (pembantu perempuan) Imam Ahmad untuk dipergunakan sebagai kafannya. Mereka juga membeli kayu gaharu, tumbuhan yang dipakai untuk pengharum, dan ramuan untuk menjaga mayat tidak lekas rusak. Untuk memandikan jenazahnya, mereka membelikan timba air. Mereka tidak mau memandikan Imam Ahmad dengan air yang ada di rumah-rumah mereka karena semasa hidupnya, Imam Ahmad sudah meninggalkan rumah mereka, tidak makan di tempat mereka, dan tidak pernah meminjam barang-barang mereka. Hingga wafatnya, Imam Ahmad masih merasa tidak senang dengan mereka karena mereka menerima gaji yang diambil dari baitul mal sebesar 4.000 dirham per bulan. Padahal mereka menerima itu karena anak-anak mereka banyak dan mereka dalam keadaan fakir miskin.

BACA JUGA: Kisah Jin dan Sandal Imam Ahmad bin Hanbal

Pada saat memandikan jenazah, hadir kurang lebih seratus orang dari bani Hasyim yang bertempat tinggal di istana khalifah. Mereka kemudian mencium di antara kedua matanya, mendoakannya serta mengucapkan semoga Allah merahmatinya.

Pada saat peti jenazah Imam Ibnu Hambal hendak diantarkan ke pemakamannya, orang-orang keluar dan rumah mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Demikian ramainya hingga hanya Allah-lah yang tahu berapa jumlahnya. Mereka ikut mengerumuni dan mengantarkan jenazah Imam Ahmad. Amir setempat, Muhammad bin Abdullah bin Thahir, termasuk salah seorang yang mengantarkan jenazah Imam dan ikut berada bersama-sama rakyatnya pada saat itu setelah ia mengimami shalat jenazah Imam. Al-Baihaqi dan lainnya meriwayatkan bahwa Amir Muhammad bin Thahir telah memerintahkan pembantu-pembantunya untuk menaksir jumlah orang yang berkumpul pada hari itu, dan mereka menghitung tidak kurang dari 1 juta 300 ribu orang yang berdiri menghormati dan yang mengiringi jenazah Imam. Bahkan riwayat lain menyebutkan sampai 1 juta 700 ribu orang. Jumlah itu selain yang berdiri di atas kapal-kapal. []

Sumber: Wasiat2 Akhir Hayat dari Rasulullah/ Penulis: Zuhair Mahmud Al-Humawi/ Gema Insani/ 2003

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline