Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ketentuan Qadha dan Membayar Fidyah

0 5

Siapakah yang Terkena Qadha’ Puasa?

Yang dimaksud dengan qadha’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya. Adapun orang yang terkena qadha’ puasa adalah orang yang sakit dan sakitnya membuat dia kesulitan untuk mengerjakan puasa, wanita hamil dan menyusui apabila dia berat untuk puasa, seorang musafir, juga wanita yang mendapati haid dan nifas. Barang siapa Meninggal Dunia, Namun Dia Masih Memiliki Utang Puasa Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barang siapa yang meninggal dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa maka ahli warisnya yang nanti akan menunaikan puasanya.”

Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah kerabat, menurut Imam Nawawi. Ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ahli waris. Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.

Boleh beberapa hari qadha’ puasa dibagi kepada beberapa ahli waris. Kemudian mereka (boleh laki-laki atau pun perempuan) mendapatkan satu atau beberapa hari puasa. Boleh juga dengan serempak beberapa ahli waris membayar utang puasa tersebut dalam satu hari. Yang dibayarkan puasa di sini adalah orang yang ketika hidupnya mampu dan punya kesempatan untuk meng-qadha’ namun belum dia lakukan hingga meninggal dunia.

BACA JUGA: Cerminan Berpuasa dari Seorang Penggembala Kambing

Rincian Qodho’ Puasa bagi Orang yang Meninggal Dunia

Pertama: Jika seseorang tertimpa sakit yang tidak kunjung sembuh, maka ia tidak ada kewajiban puasa dan tidak ada qodho’ puasa. Yang ia lakukan hanyalah mengeluarkan fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ia tinggalkan. Ia boleh jadi melakukannya ketika ia hidup. Jika memang belum ditunaikan, ahli waris yang nanti menunaikannya ketika ia telah meninggal dunia.

Kedua: Adapun jika seseorang tertimpa sakit yang diharapkan sembuhnya, maka ia tidak ada kewajiban puasa di bulan Ramadhan karena sakit yang ia derita, namun ia punya kewajiban untuk qodho’ puasa. Jika ternyata ia tidak mampu menunaikan qodho’ karena sakitnya terus menerus hingga akhirnya meninggal dunia, maka ia tidak punya kewajiban qodho’ puasa dan juga tidak ada kewajiban mengeluarkan fidyah. Ahli warisnya pun tidak diperintahkan untuk membayar qodho’ puasanya dan juga tidak diperintahkan mengeluarkan fidyah.

Al ‘Azhim Abadi mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa jika seseorang tidak puasa karena alasan sakit dan safar, lalu ia tidak meremehkan dalam penunaian qodho’ hingga ia mati, maka ia tidak ada kewajiban qodho’ dan juga tidak ada kewajiban fidyah (memberikan makan pada orang miskin).”

Ketiga: Adapun jika seseorang itu sakit dan penyakitnya bisa diharapkan sembuh dan setelah sembuh ia mampu untuk menunaikan qodho’nya, namun ia meremehkan sehingga qodho’ tersebut tidak ditunaikan sampai ia meninggal dunia; maka orang semacam ini yang disunnahkan untuk dibayar qodho’ puasanya selama beberapa hari oleh ahli warisnya. Jika ahli waris tidak membayar qodho’nya, maka bisa digantikan dengan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) bagi setiap hari yang ditinggalkan.

Dari penjelasan ini, maka maksud hadits, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya” adalah barangsiapa yang tidak puasa karena udzur (seperti haidh, safar atau sakit yang bisa diharapkan sembuhnya), lantas ia pun mampu menunaikan qodho’ puasanya namun ia tidak melakukannya, maka disunnahkan bagi ahli warisnya untuk melunasi utang puasanya.

BACA JUGA: Tatkala Bilal Belum Melunasi Utangnya

Cara Pembayaran Fidyah

Orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit yang sakitnya tidak kunjung sembuh wajib membayar fidyah.

Cara pembayaran fidyah adalah sebagai berikut:
1. Ukuran fidyah adalah dilihat dari ‘urf (kebiasaan yang layak) di masyarakat setempat. Selama dianggap memberi makan kepada orang miskin, maka itu dikatakan sah.

2. Fidyah harus dengan makanan, tidak bisa diganti uang karena inilah perintah yang dimaksud dalam ayat Al-Quran.

3. Satu hari tidak puasa berarti memberi makan satu orang miskin.

4. Bisa diberikan berupa makanan mentah (ditambah lauk) atau makanan yang sudah matang.

5. Tidak boleh mendahulukan fidyah sebelum Ramadhan.

6. Waktu penunaian fidyah boleh setiap kali tidak puasa (fidyah ditunaikan per hari, pen.), atau bisa pula diakhirkan pada hari terakhir Ramadhan lalu ditunaikan semuanya sekaligus. []

BACA JUGA: Ini Awal Dilaksanakannya Shalat Tarawih

Sumber: Ramadhan Bersama Nabi/ Penulis:Muhammad Abduh Tuasikal/ Penerbit: Rumaysho, 2017

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline