Picture: Freepix.com

Ketegaran Hati Aisyah

Rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah diterpa ujian yang sangat luar biasa. Ujian itu membuat hati Aisyah tercabik-cabik. Hati dua insan yang saling mencintai tersebut telah diuji dengan berita dusta yang telah menggetarkan Madinah pada waktu itu.

Sikap Rasulullah tidak seperti biasanya, sikapnya begitu dingin kepada Aisyah, bahkan sekalipun Aisyah sedang sakit kala itu. Rasulullah hanya bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” setelah itu Rasulullah pergi. Sikap Rasulullah yang berubah tiba-tiba bukan tanpa alasan. tetapi karena berita dusta yang disebarkan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul tetang perselingkuhan Aisyah dengan Shafwan bin Mu’thal.

Aisyah pada waktu itu tidak menyadari mengenai berita dusta yang telah tersebar, sekalipun ia merasakan perubahan sikap Rasulullah tapi tidak keluar dari mulutnya pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap Rasulullah yang berbeda dari biasanya.

Setelah mengetahui alasan perubahan sikap Rasulullah, sekali pun Aisyah tidak menjelaskan kebenarannya tapi Aisyah berusaha tegar dan meminta izin untuk menemui kedua orang tuanya dengan maksud menenangkan dirinya serta bertanya mengenai kebenaran berita dusta tersebut. Ia tidak berusaha bertanya kepada Rasulullah bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, bahwa wanita lebih agresif dan mudah terbawa emosi, sehingga Aisyah lebih baik bertanya kepada orang tuanya daripada Rasulullah karena dikhawatirkan emosinya lebih unggul daripada akalnya.

Aisyah bertanya kepada kedua orang tuanya, “Wahai ibu… apa yang telah diperbincangkan oleh manusia tentangku?”

Ibunya menjawab, “Wahai putriku… ringankanlah perasaanmu, sesungguhnya wanita yang menikah dengan laki-laki yang amat mencintainya sedangkan dia memiliki madu niscaya akan banyak godaannya.”

“Subhanallah!! Benarkah orang-orang telah membicarakan berita dusta tersebut?”

Aisyah seketika itu juga hatinya hancur, ia menangis hingga dua malam satu hari.

Rasulullah datang menemui istri tercintanya Aisyah dengan berkata, “Wahai Aisyah! Aku dengar berita tentang dirimu. Jika engkau terbebas dari tuduhan itu, maka Allah akan membebaskanmu, dan jika engkau melakukan suatu dosa maka mohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah.” Setelah itu Rasulullah pergi.

Perkataan Rasulullah telah menguras air mata Aisyah. Ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah berikanlah jawaban kepada Rasulullah.”

Namun Abu Bakar tidak bisa berbuat apa-apa, “Demi Allah aku tidak tahu menahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah.”

Lalu Aisyah meminta kepada ibunya, “Wahai ibu berikanlah jawaban kepada Rasulullah.”

Begitupun dengan ibunya ia hanya mejawab, “Demi Allah aku tidak tahu menahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah.”

Kemudian Aisyah berkata, “Demi Allah kalian telah mendengar tentang apa yang diperbincangkan manusia tentang diriku, sehingga berpengaruh di hati kalian dan kalian pun membenarkannya, jika sekiranya aku katakan kepada kalian bahwa aku terbebas dari tuduhan keji tersebut kalian pun tidak akan mempercayaiku, dan jika aku mengakui tuduhan dusta tersebut niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tidak mendapatkan pemisalan antara diriku dan diri kalian melainkan seperti perkataan Yusuf ketika berkata, ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’(QS. Yusuf: 18)”

Aisyah waktu itu tidak bisa berbuat banyak melainkan menjadikan sabar sebagai sebaik-baik penolong. Ia memohon pertolongan hanya kepada Allah, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenarannya. Ia tidak marah atas sikap dingin Rasulullah, ia hanya ingin kebenaran terungkap dengan pertolongan Allah.

Hingga Allah menurunkan firmannya untuk meluruskan berita dusta tersebut dan membebaskan Aisyah dari tuduhan berita dusta yang telah dibuat-buat oleh Abdullah bin Ubai bin Salul tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita buruk itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu… (QS. An-Nur: 11) []

Sumber: Mereka Adalah para Shahabiyat/ Penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, dkk/ Penerbit: At-Tibyan/ Juli, 2012

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline