Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kerajaan akan Berada di Tangan Kaumnya Hingga Hari Kiamat

0

Ibnu Ishaq menceritakan: Rabi’ah bin Nashr bin Malik adalah salah seorang di antara raja-raja Tubba’ (Tababi’ah). Suatu saat dia bermimpi sesuatu yang sangat menakutkan dan mengganggu pikirannya. Maka segera dia memanggil semua dukun, tukang sihir, peramal nasib ahli nujum yang ada di wilayah kerajaannya untuk datang ke istananya.

Setelah mereka berkumpul maka dia pun berkata, “Aku bermimpi satu hal yang sangat menakutkan dan membuatku gundah. Maka beritahukanlah padaku apa takwil mimpi itu!”

Mereka ahli-ahli sihir berkata, “Kisahkanlah kepada kami maka kami akan memberitahukan padamu takwilnya!”

Maka Rabi’ah berkata, “Jika aku beritahukan pada kalian, maka aku tidak akan puas dengan takwil kalian. Karena sesungguhnya ada yang tahu takwilnya kecuali orang yang tahu tentang takwil itu sebelum aku beritahukan mimpi itu padanya.”

Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Jika raja mengingin hal itu maka hendaknya raja mengutus seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiq karena sesungguhnya tidak seorang pun yang lebih mumpuni ilmunya daripada keduanya. Keduanya akan memberitahukan padamu tentang apa yang engkau tanyakan.”

Adapun nama Sathih adalah Rabi’ bin Rabi’ah bin Mas’ud bin Mazin bin Dzi’b bin ‘Adi bin Mazin Ghassan. Sementara Syiq adalah anak dari Sha’b bin Yasykuri bin Ruhm bin Afraka bin Qasr, bin ‘Abqara, bin Anmar bin Nizar, Anmar adalah bapak dari Bajilah dan Khasy’am.

Maka dia pun mengutus utusannya untuk menghadap padanya. Sathih datang lebih awal daripada Syiq. Maka Rabi’ah berkata padanya, “Sesungguhnya aku bermimpi sesuatu yang sangat mengguncang jiwaku dan menggundahkan pikiranku. Maka beritahukanlah padaku, karena sesungguhnya jika benar maka takwilnya juga akan benar!”

Sathih berkata, “Aku akan lakukan! Kau bermimpi melihat api, yang muncul dari laut nan gulita, lalu singgah di tanah datar dan memakan semua yang yang ada di sana.”

Raja berkata, “Apa yang kau katakan tidak ada yang salah sedikit pun, wahai Sathih! Lalu bagaimana takwilnya?”

Sathih berkata, “Aku bersumpah dengan ular di antara dua tanah datar. Orang-orang Habasyah (Ethiopia) akan menginjak kakinya di tanah kalian. Mereka akan menguasai antara Abyan hingga Jurasy.”

Maka sang raja berkata, “Demi ayahmu wahai Sathih! Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang sangat kami benci dan sangat menyakitkan. Apakah itu akan terjadi di zamanku atau masa setelahku?”

Sathih menjawab, “Tidak! Dia akan terjadi setelah masa kekuasaanmu, lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun berlalu.”

“Apakah kerajaan mereka akan berlangsung terus menerus atau putus?” lanjutnya,

Sathih berkata, “Tidak! dia akan terputus selama tujuh puluh tahun lebih, kemudian mereka dibunuh dan mereka diusir darinya sambil melarikan diri.”

Raja berkata, “Siapa yang berhasil membunuh dan mengusir keluar mereka?”

Bathih berkata, “Orang yang melakukannya adalah Iram bin Dzi Yazan yang keluar menyerang mereka dari Aden dan mereka tidak membiarkan satu orang Habasyipun tersisa di Yaman.”

Raja menyambung, “Apakah kekuasaan mereka juga akan berlangsung tanpa terputus?”

Sathih menjawab, “Terputus!”

Raja berkata, “Siapa yang memutusnya?”

Sathih menjawab, “Seorang Nabi Suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi.”

Raja bertanya, “Dari keturunan siapakah Nabi itu?”

Sathih berkata, “Seorang lelaki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr kekuasaannya akan berada pada kaumnya hingga akhir zaman.”

Sathih menjawab, “Apakah zaman itu ada akhirnya?”

Sathih menjawab, “Ya. Di hari di mana orang-orang terdahulu dan yang belakangan dikumpulkan. Di mana orang-orang yang berbuat baik akan bahagia dan orang-orang yang berbuat jahat akan sengsara!”

Raja berkata, “Apakah yang engkau katakan itu benar adanya?”

Sathih berkata, “Ya. Demi Syafaq (cahaya merah di waktu senja), dan demi malam yang gelap gulita dan demi fajar saat merekah. Sesungguhnya apa yang aku beritahukan kepadamu itu benar adanya.”

Setelah itu datanglah Syiq. Rajapun mengatakan sebagaimana yang dia katakan kepada Sathih dan dia rahasiakan apa yang telah dikatakan oleh Sathih untuk melihat apakah yang dia katakan mirip dengan apa yang dikatakan Sathih atau malah bertentangan.

Maka Syiq pun menjawab, “Benar. Anda bermimpi melihat api, yang muncul dari laut nan gulita, lalu jatuh di antara taman dan dia menelannya semua yang ada di sana.”

Tatkala dia mengatakan itu dan dia sadar bahwa apa yang dikatakan keduanya sama dan ucapan mereka sama hanya saja Sathih mengatakan jatuh di tanah datar dan memakan semua yang ada dan Syiq mengatakan jatuh di taman dan memakan semua yang ada, maka raja itu berkata padanya, “Kau sama sekali tidak salah wahai Syiq! Lalu apa tafsirnya menurutmu?”

Syiq berkata, “Aku bersama dengan manusia yang ada di antara dua tanah datar! Orang-orang hitam akan menginjakkan kaki mereka di tanah kalian, dan mereka akan melepaskan anak-anak dari perhatian kalian. Mereka akan berkuasa dari Abyan hingga Najran.”

Raja berkata, “Demi ayahmu wahai Syiq. Sesungguhnya kabar ini membuat kami marah dan sungguh sangat menyakitkan! Kapan itu akan terjadi? Apakah itu akan terjadi di zaman saya atau setelah zaman saya?”

Syiq menjawab, “Tidak. Bukan pada zamanmu. Ini akan terjadi beberapa tahun setelah zamanmu. Lalu akan datang seseorang yang agung akan menyelamatkan kalian dan memberi pelajaran keras atas mereka.”

Raja bertanya, “Siapa yang kau maksud dengan orang yang agung itu?”

Syiq menjawab, “Seorang lelaki yang tidak hina, tidak pula menghinakan. Dia ke luar pada mereka dari rumah Dzi Bazan dan dia tidak membiarkan seorangpun dari antara mereka di Yaman.”

Raja berkata, “Apakah kekuasaannya akan abadi?”

Dia menjawab, “Tidak, dia akan terputus dengan datangnya seorang nabi yang diutus yang datang dengan keadilan dan kebenaran di antara orang-orang beragama dan orang-orang yang memiliki keutamaan. Kerajaan akan berada di tangan kaumnya hingga hari pembalasan (kiamat)”

Raja menukas, “Apakah hari pembalasan itu?”

Syiq menjawab, “Hari di mana para pemimpin mendapatkan balasan dan dipanggil dengan panggilan-panggilan dari langit yang didengar oleh makhluk hidup dan yang telah mati. Manusia saat itu dikumpulkan di satu tempat yang telah ditetapkan di mana orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan kemenangan dan kebaikan.”

Rabi’ah berkata, “Apakah yang engkau katakan itu benar adanya?”

Syiq menjawab, “Ya, demi Tuhan langit dan bumi dan pengangkatan dan perendahan yang ada di antara keduanya. Sesungguhnya apa yang kukatakan adalah benar adanya dan tidak ada keraguan di dalamnya.”

Apa yang dikatakan oleh dua orang tersebut begitu membekas di hati Rabi’ah bin Nashr. Maka dia segera mempersiapkan anak-anaknya dan kaum kerabatnya untuk berangkat ke Irak demi kemaslahatan mereka dengan mengirim surat kepada raja Persia yang bernama Sabur bin Khurrazadz, dan mereka ditempatkan di Hirah.

Di antara anak-anak Rabi’ah bin Nashr yang tersisa adalah Nu’man bin Mundzir, dia bernasab Yaman. Nasab mereka adalah sebagai berikut: Nu’man bin Mundzir bin Nu’man bin Mundzir bin Amr bin Adi bin Rabi’ah bin Nashr, sang raja tadi.

Ibnu Hisyam menuturkan: Nu’man adalah anak dari Mundzir bin Mundzir, sebagaimana berita yang sampai pada saya dari Khalaf al- Ahmar. []

 

Referensi: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline