Picture: Vector4Free

Kemuliaan yang Diperoleh Abu Ayyub

Dialah Abu Ayyub, seorang sahabat yang mendapatkan kemuliaan dengan menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk bermalam Rasulullah Saw. ketika sampai di Madinah.

Abu Ayyub atau dengan nama lengkap Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Ka’ab an-Najjari. Ibunya benama Hindun binti Sa’id bin Amr, dari kalangan Bani al-Harits ibnul Khazraj.’ Ia termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam.

Dalam perjananan hidupnya, ia ikut menghadiri Aqabah kedua dan turut tempur dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan perang-perang lainnya bersama Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah Saw. meninggalkan Makkah al-Mukarramah, keluar dari Quba menuju Madinah, para kabilah di Madinah menyambut Rasulullah Saw. dan mengharap kiranya beliau bersedia singgah di tempat mereka.

Ternyata kemuliaan itu diperuntukkan bagi Abu Ayyub al-Anshari. Unta yang ditunggangi Nabi saw. tiba-tiba berhenti dan mendekam di dekat rumahnya. Abu Ayyub pun langsung mengambil tali kendali unta itu dan mengandangkannya. Kemudian Rasulullah saw. turun dan singgah di lantai bawah rumah Abu Ayyub.

Sebenamya, Abu Ayyub berharap agar Rasulullah Saw. berkenan tinggal di lantai atas rumahnya. Tetapi Rasulullah saw. justru menjawabnya, “Wahai Abu Ayyub, tempat yang lebih nyaman bagi kami dan dapat menyelimuti kami adalah rumah di lantai bawah.”

Ketika bejana besar milik Abu Ayyub pecah, ia bersama istrinya bergegas mengeringkan tumpahan airnya karena khawatir ada yang menetes pada Rasulullah Saw. yang tidur di lantai bawah. Ia lalu mengatakan hal itu pada Rasulullah Saw. Akhirnya beliau pun pindah ke kamar atas.

Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. menugaskan Abu Ayyub sebagai pemangku pemerintah sementara di Madinah ketika beliau pergi ke Irak. Setelah Ali kembali, Abu Ayyub pun ikut tempur bersamanya dalam perang menumpas Khawarij. []

Sumber: 65 Sekretaris Nabi/ Muhammad Mustafa Azami/ Gema Insani/ November, 2008

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline