Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kemarahan Umar kepada Adik Perempuannya

0

Umar bin Khattab sungguh prihatin melihat permusuhan antara penduduk Mekkah yang masih musyrik dengan umat Islam pengikut Muhammad. Ia berniat ingin mengembalikan ketenangan Mekkah dengan jalan mengikis sumber penyebab perpecahan tersebut. Hati Umar memberontak. Lama sekali ia memikirkan ingin menghabisi Muhammad dan ajarannya itu.

Suatu hari, Umar berjalan terburu-buru ke rumah al-Arqam. Tampak jelas di matanya kemarahan yang besar. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah dari Bani Zuhrah. Nu’aim memperhatikan muka Umar yang beringas lalu bertanya, “Hendak ke mana engkau, wahai Umar? Rasanya aku belum pernah melihat engkau begitu marah dengan menghunus pedang seperti ini!”

“Aku hendak menghabisi Muhammad yang telah memecahbelah persatuan Quraisy, menganggap bodoh para pemuka mereka, menghina keyakinan mereka dan telah mencaci-maki tuhan-tuhan mereka,” jawab Umar.

Mendengar jawaban Umar yang penuh emosi itu, Nu’aim segera menukas, “Demi Allah, kalau begitu, sungguh engkau telah ditipu nafsumu sendiri. Apakah engkau kira Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu berjalan di muka bumi dengan tenang setelah engkau membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak kembali saja kepada keluargamu sendiri dan membereskan mereka terlebih dahulu?”

“Apa maksudmu? Apakah engkau juga sudah meninggalkan agama kita dan memeluk agama Muhammad? Lalu, ada apa dengan keluargaku?” Umar balik bertanya.

“Wahai Umar,” ujar Nu’aim, “maukah engkau kutunjukkan hal yang aneh? Ipar sekaligus sepupumu, Sa’id bin Zaid, dan adik perempuanmu, Fatimah, mereka telah memeluk Islam dan menjadi pengikut Muhammad! Kurasa lebih baik jika engkau mengurus saudaramu sendiri!”

Kontan saja, berita itu menambah kemarahannya. Darahnya bagai mendidih. “Apakah benar mereka berdua telah melakukannya? Jika semua itu benar, pasti mereka akan kubunuh dengan cara amat keji!” bisik Umar dalam hati. Umar segera mengalihkan tujuannya dan pergi ke rumah adiknya dengan gejolak amarah yang tidak bisa ditahannya lagi.

Sesampainya di pintu rumah Fatimah dan hendak masuk, ia mendengar alunan bacaan yang tidak dikenalnya. Setelah mendengarkan sebentar, dia pun masuk dan berteriak memanggil sang adik. Saat itu, Khabbab bin al-Arat sedang berada di dekat Fatimah dan Sa’id tengah membacakan beberapa ayat Al-Quran dengan disimak oleh mereka berdua. Ketika mereka mendengar teriakan Umar, Khabbab segera bersembunyi di salah satu sudut rumah, sedangkan Fatimah mengambil lembaran Al-Quran yang disimaknya tadi dan menyembunyikannya di balik lengan bajunya agar tidak diketahui Umar. Umar masuk dan bertanya, “Suara apakah yang kudengar tadi?”

“Engkau tidak mendengar apa-apa,” jawab Fatimah.

“Aku dengar kalian berdua telah menjadi pengikut agama Muhammad,” lanjut Umar.

Setelah berkata demikian, Umar langsung menyerang iparnya, Zaid bin Sa’id dan menghajarnya. Fatimah kemudian bangkit untuk menolong suaminya dan berdiri di antara suaminya dan Umar yang sedang marah. Akan tetapi, ia juga tidak luput dari amarah Umar. Umar menampar wajah Fatimah dengan keras hingga berdarah. Setelah diperlakukan demikian, mereka kemudian berkata, “Benar, kami telah memeluk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang lakukanlah apa saja yang kausukai! Islam tidak akan pernah pudar dari hati kami.” []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline