Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kelembutan Hati Umar bin Khattab

0 112

Walaupun kerap digambarkan dengan ketegasan cenderung ke sifat yang keras, namun Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang welas asih, pemimpin yang sadar akan kewajiban-kewajibannya. Dan atas kesadarannya itu pula, Umar pernah membuat sebuah keputusan penting terkait hajat biologis tentara perangnya.

Suatu ketika ada seorang perempuan menemui Umar dan berkata, “Suamiku selalu bangun malam dan berpuasa ketika siang.”

“Engkau sungguh begitu pandai memuji suamimu,”jawab Umar.

Maka Ka’ab bin Suur berkata kepada Umar, “Sesungguhnya dia sedang mengadu. Apakah engkau kira istrinya tidak berhak atas dirinya?”

Umar pun berkata, “Sekarang aku faham, maka kita akan memberi keputusan.”

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah menghalalkan baginya empat istri. Sedangkan bagi setiap istri hak sehari dari empat hari. Begitupun hak setiap semalam setiap empat malam.”

Kejadian lain yang merupakan bentuk perhatian lain dari Umar bin Khattab atas pasukan muslim dan keluarga mereka adalah, ketika suatu saat Umar bin Khattab melakukan thawaf dan mendengar seorang perempuan melantunkan sebuah syair kerinduan pada sang suami.

Maka Umar menghampirinya dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”

Related Posts

Tsauban: Bagaimana dengan Nasibku Kelak di Akhirat?

“Sesungguhnya suamiku telah lama bertugas dan aku merindukannya.”

Umar segera menemui Ummul Mukminin Hafshah yang merupakan putrinya yang dipersunting Rasulullah. “Wahai Hafshah aku ingin bertanya tentang sesuatu yang membebani pikiranku. Berapa lama seorang perempuan merindukan belaian suaminya (ketika ditinggal pergi)?”

Hafshah lantas menutupi kepalanya karena malu.

Maka, Umar berkata, “Sesungguhnya Allah tak pernah malu atas sebuah kebenaran.”

Maka Hafshah memberi isyarat tiga atau empat bulan. Maka Umar kemudian mewajibkan kepada setiap pasukan untuk tidak ditugaskan lebih dari empat bulan.

Atas kejadian itu kemudian diberlakukan kebijakan rotasi pasukan muslim di tempat tugas. Mereka secara bergantian diistirahatkan dan tidak diperbolehkan terlalu lama di tempat tugas. Ini adalah bentuk perhatian Umar selaku khalifah kepada pasukannya. Agar mereka tetap dapat berlaku adil kepada keluarga mereka termasuk dalam hal kewajiban dan hak biologis mereka. []

Baca juga: Menjelang Kematiannya, Umar Bin Khattab Meminta Pipinya di Tempatkan di Lantai

Sumber: Kitab Tarikhul Khulafa’ /Penulis: Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al Suyuthi dan Umar bin Khattab/Penerbit: Dr. Musthafa Murad

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline