Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kekuatan di Balik Shalawat Nabi (Bagian 1)

0 308

Suatu ketika, datanglah seorang nenek kepada imam Hasan al-Basri. Dengan muka sedih, nenek tersebut bercerita bahwa ia mempunyai seorang anak gadis yang sudah meninggal. Anak gadis itu adalah satu-satunya anak yang ia miliki dari pernikahannya dengan almarhum suaminya. Begitu cintanya nenek tersebut kepada sang anak, sehingga kesedihan akibat kematiannya belum terhapus sama sekali.

“Wahai Tuan Guru, beberapa hari ini, saya merasa rindu kepada almarhumah anak saya. Saya ingin bertemu dengannya, bercakap-cakap, dan mencium pipinya meskipun hanya dalam mimpi. Berikanlah saya amalan yang dapat mewujudkan maksud saya itu?” begitu kata si nenek kepada imam Hasan al-Basri.

Imam Hasan al-Basri terharu melihat nenek itu. Ia pun terdiam beberapa saat. Tak lama kemudian, ia menjawab, “Ibu cinta kepada Rasulullah?”

“Tidak ada yang aku cintai melebihi Rasulullah,” Jawab  Nenek itu menjawab tegas.

“Kalau begitu, bacalah salawat kepada beliau semampu Ibu. Resapilah bacaannya, seolah Ibu sedang menumpahkan rasa cinta yang mendalam kepada beliau.”

Begitulah nasihat Imam Hasan al-Basri kepada sang nenek. Sepulang dari rumah Imam Hasan al-Basri, nasihat itu dijalankannya dengan sepenuh hati. Tidak henti-hentinya ia menekur sambii membaca shalawat kepada Nabi. Malamnya, ia pun terlelap tidur. Di dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan anaknya. Namun, alangkah sedih hatinya menyaksikan nasib sang anak.

Gadis cantik yang sewaktu hidup selalu dipasangi mahkota berlian di kepalanya itu, kini mahkotanya telah berganti dengan bara api. Leher jenjang yang dulu berkalungkan emas, kini berganti dengan ular ganas yang mematuk muka dan lehernya.

Betis indah yang dulunya tertutup kain sutera mengkilat, kini diikat dengan rantai besi yang panas membara dan melepuhkan daging kakinya. Saking tak percaya melihat nasib sang anak, ia menjerit keras dan terbangun dari tidurnya.

Pagi-pagi sekali, ia bergegas mendatangi rumah lmam Hasan al-Basri. Diceritakannya pemandangan mengerikan yang tetah dilihat di dalam mimpinya Mendengar cerita si nenek, Imam Hasan terkejut. Alangkah berat siksaan yang diterima si idis cantik itu. Dalam beberapa hari, peristiwa itu pun berlalu begitu saja. Kesedihan memang masih terasa, tetapi kejadian-kejadian lain telah mengikisnya sedikit demi edikit, sehingga Imam Hasan al-Basri mulai agak lupa lengan peristiwa itu.

Suatu saat, Hasan al-Basri sedang beristirahat dengan lelapnya di atas pembaringan. Ia bermimpi didatangi seorang gadis yang jelita. Senyumnya begitu manis. Rambutnya yang hitam berkilau disanggul dengan rapi. Di atas kepalanya terpasang mahkota berlian yang mengerlap-kerlip bagai bintang. Kalungnya terbuat dari untaian mutiara putih yang sangat indah. Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan berbau wangi. Imam Hasan al-Basri terpesona melihatnya, namun ia tidak tahu siapa gerangan gadis jelita itu.

“Wahai Tuanku, apakah Tuan tidak mengenal saya?” tanya gadis tersebut seraya mendekati Hasan al-Basri.

Ulama besar ini menggelengkan kepala, “Tidak saya tidak mengenalmu.”

“Tuan masih ingat kepada seorang nenek yan meminta amalan kepada Tuan agar dapat bertemu dengan anaknya yang sudah meninggal?”

“Ya, saya masih ingat. Nenek itu tetangga sahabat saya.”

“Saya adalah anaknya, Tuan,” sahut gadis itu sambil tersenyum.

Sang Imam terheran-heran. Karena menurut cerita ibunya, gadis itu berada dalam kesengsaraan yang sangat. “Beberapa waktu lalu, ibumu bercerita bahwa kamu dalam keadaan tersiksa. Lalu, apa yang menyebabkanmu memiliki kedudukan terhormat seperti ini?”

“Ibu saya tidak berbohong, Tuan. Di tempat saya dikuburkan, ada berpuluh-puluh orang muslim sedang disiksa oleh Allah karena maksiat yang dilakukannya, termasuk saya. Tapi pada suatu hari, lewatlah seorang laki-laki di atas kuburan kami. Ia adalah seorang yang taat kepada ajaran Nabi.

Bahkan, ia sangat mencinta beliau dengan segenap jiwanya. Kemudian laki-laki itu membaca shalawat satu kali yang pahalanya ditujukan untuk kami. Tiba-tiba, siksaan yang sedang melanda kami dicabut oleh Allah swt. Dosa-dosa kecil kami pun langsung terhapus oleh siraman pahala salawat yang dibacanya.”

Demikianlah mimpi yang didapat oleh Imarn Hasan al-Basri dalam tidurnya. Mimpi itu pun segera diceritakannya kepada sang nenek, sehingga sang nenek merasa lega dan dapat hidup tenang sampai akhir hayatnya. []

Sumber: Akhlak Hubungan Vertikal/ Penulis: M Alaika  Salamullah/ Penerbit: Pestaka Insan Madani, 2008

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline