Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kekasih Rasul dan Kekasih Allah (Bagian 2 Habis)

66

Sesampainya di suatu perkampungan, pemuda itu menuju ke sebuah rumah dan kemudian masuk ke dalamnya. Abdullah bin Al-Mubarak yang sejak tadi menguntitnya menghentilcan langkahnya tepat di depan rumah yang dimasuki pemuda itu. Ia menunggu untuk beberapa saat lamanya sehingga ada scorang yang keluar dari dalam rumah.

BACA JUGA: Kekasih Rasul dan Kekasih Allah (Bagian 1)

Ketika itu, Ibnu Al-Mubarak bertanya, “Rumah siapa ini?”

Seseorang menjawabnya, “Rumah si Fulan.”

Lalu, Abdullah bin Al-Mubarak bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari si pemilik rumah.

Ketika sudah bertemu, Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Saya ingin membeli seorang budak.”

Kemudian pemilik rumah memperlihatkan semua budak yang dimilikinya kepada Ibnu Al-Mubarak. Temyata yang diperlihatkan bukanlah budak yang ingin dibeli oleh Abdullah bin Al-Mubarak.

“Bukan yang ada ini! Saya menginginkan budak yang lain. Apakah Anda masih memiliki budak yang lain?”

“Ada! Tetapi saya kira tak pantas bagi Anda. Ia seorang budak yang malas.”

“Tak apalah. Aku ingin melihatnya.”

Kemudian pemilik budak itu pun memanggil budak yang dimaksud.

Budak yang dianggap sebagai budak yang malas itu ternyata adalah pemuda yang melaksanakan shalat dan bermunajat di dalam gua.

“Berapa harga budak ini?” tanya Abdullah bin Al-Mubarak.

“Saya membelinya dengan harga 20 dinar. Namun, harganya tidak sepadan dengan harga budak yang lain. Untuk itu, saya jual dengan harga 10 dinar saja.”

BACA JUGA: Empat Doa untuk Seorang Budak sebagai Balasan atas Empat Dirham

“Tidak, aku membelinya dengan harga 20 dinar.”

Abdullah bin Al-Mubarak pun membayar dan membawa budak itu.

Saat itu budak tersebut berkata, “Ibnu AI-Mubarak, mengapa Anda berani membeliku, sedangkan aku tidak akan berbakti kepada Anda?”

“Siapa namamu?”

“Namaku, Al-Ahibbatu,” jawab sang budak.

Abdullah bin Al-Mubarak membawa pulang Al-Ahibbatu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Al-Ahibbatu mengatakan hendak mcngambil wudu. Abdullah bin Al-Mubarak kemudian menyiapkan tempat air wudu untuknya berikut sandal di depannya. Al-Ahibbatu pun berwudu, melaksanakan salat, dan bersujud.

Karena Abdullah bin AI-Mubarak ingin mendengar apa yang diucapkan dalam sujudnya, ia pun mendekati budaknya itu.

Samar-samar ia mendengar doanya, “Ya Allah, Zat yang memiliki rahasia, rahasia itu sungguh telah menjadi terang, padahal aku tidak menginginkan kehidupanku menjadi masyhur sesudah ini.”

Kemudian ia berhenti sesaat. la ternyata sudah tak bergerak. Melihat itu, Ibnu Al-Mubarak pun mencoba membangunkannya, tapi ia ternyata telah meninggal dunia. Ibnu Al-Mubarak lalu bergegas mengurus jasadnya dan memakamkan sang budak.

Alkisah, pada suatu malam Abdullah bin Al-Mubarak bermimpi melihat Rasulullah Shalallau ‘alaihi wasallam, sedangkan di samping kanannya ada seorang tua yang diliputi cahaya yang memesona, dan di sisi kirinya adalah pemuda yang bermuka hitam itu.

Kala itu Rasulullah bersabda, “Semoga Allah membalas kebaikan kepada kita semua. Sejauh ini, tiada bahaya yang mengancam dirimu berkat perlakuan baikmu pada kekasihku ini.”

BACA JUGA: Tiga Doa yang Diucapkan Pria Itu Membuatnya Menjadi Kekasih Allah

Lalu, Ibnu Al-Mubarak pun bertanya, “Apakah pemuda bermuka hitam itu adalah kekasihmu, ya Rasulullah?”

“Benar, ia kekasihku dan kekasih Allah,” jawab Nabi.

Wallahu a’lam bishawab []

Sumber: Di Istana Cinta Rasulullah/Karya: Mokh Syaiful Bakhri/Penerbit: Erlangga/2006

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More