Picture: Freepik

Kegembiraan Kaum Muslimin

Di antara sahabat yang melamar Fathimah Az-Zahra adalah Abu Bakar dan Umar. Namun Rasulullah tak menerimanya dan menolaknya dengan halus. Kemudian Ali bin Abi Thalib mencoba mendatangi Nabi dengan maksud meminang Fathimah. Ali bercerita:

“Aku ingin mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau yaitu Fathimah. Aku berkata, “Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa.” Kemudian aku ingat akan kebaikan beliau maka aku beranikan diri untuk meminangnya. Nabi bersabda kepadaku, “Apakah engkau memiliki sesuatu?”

Aku berkata, “Tidak ya Rasulullah.” Kemudian beliau bertanya, “Lantas di manakah baju besi Al-Khuthaimah yang pernah aku berikan kepadamu pada hari lalu?” “Masih aku bawa ya Rasulullah.” Jawabku. Selanjutnya Nabi bersabda, “Berikanlah barang itu kepada Fathimah sebagai mahar.”

Kemudian segeralah Ali pergi sebentar lalu kembali dengan membawa baju besi itu. Rasulullah memerintahkan kepada Ali untuk menjualnya, yang kemudian hasilnya digunakan untuk perlengkapan pernikahan. Akhirnya baju besi itu dibeli oleh Utsman bin Affan dengan harga 470 dirham. Lalu Ali menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah. Maka Rasulullah memberikannya kepada Bilal untuk kemudian dibelika parfum dan wewangian, sedangkan sisanya diserahkan kepada Ummu Salamah untuk dibelikan perlengkapan pengantin.

Selanjutnya Rasulullah mengundang para sahabat dan mempersaksikan kepada mereka bahwa beliau telah menikahkan putrinya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib dengan mahar 400 mitsqal perak menurut sunnah yang lurus dan berdasarkan faridhah yang wajib.

Rasulullah memohon keberkahan bagi pernikahan putrinya itu, dan kelak menjadi keluarga yang shalih.

Pada malam pernikahan Az-Zahra bersama Farisul Islam Ali bin Abi Thalib, Rasulullah memerintahkan Ummu Salamah agar membawa pengantin putri ke rumah Ali bin Abi Thalib yang telah dipersiapkan sebagai tempat tinggal mereka.

Maka bergembiaralah kaum muslimin dengan pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan Ali. Datang pula Hamzah paman Rasulullah dan juga paman Ali dengan membawa dua biri-biri untuk disembelih lalu kemudian para sahabat memakannya. []

 

Sumber: Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Ramadhan 1433 H. Nisaa’ Hauldar Rasul, Shuwaru min Hayati ash-Shahabiyat. Edisi Indonesia, Mereka Adalah Para Shahabiyat. At-Tibyan.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Bagaimana Tahapan Dakwah Rasulullah di Makkah?

Jadi, dalam periode Makkah ini terdapat tiga tahapan dakwah yang mana satu dengan lainnya milliki kekhususan masing-masing.

you're currently offline