Foto: iStock

Kebingungan dan Kecemasan Rasulullah yang Mendalam

Wahyu adalah kalam atau perkataan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Namun, wahyu yang diterima Rasulullah sempat mengalami masa vakum. Mengenai masa vakum (terputusnya wahyu untuk sementara), Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Ibnu Abbas terdapat informasi bahwa ia hanya berlangsung selama beberapa hari. Pendapat inilah yang kuat bahkan dapat dipastikan, setelah mengadakan penelitian dari segala aspeknya. Adapun riwayat yang masyhur bahwa hal ini berlangsung selama tiga atau dua tahun setengah tidaklah benar sama sekali. Pada masa vakum tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dirundung kesedihan yang mendalam dan diselimuti oleh kebingungan dan kecemasan.

Dalam kitab “At-Ta’bir”, Imam Al-Bukhari meriwayatkan, “Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada kami, wahyupun mengalami masa vakum sehingga membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedih dan berulang kali berlari kencang agar dapat terjerembab dari puncak-puncak gunung, namun setiap kali beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, Malaikat Jibril menampkkan wujudnya, seraya berkata “Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah!” sepirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan kembali jiwa beliau, lalu beliau pulang. Namun mana kala masa vakum itu masih terus berlanjut beliaupun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak gunung, Malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti sebelumnya.

Setelah beberapa waktu, Jibril ‘alaihissalam turun kembali membawa. Ibnu Hajar berkata, “Adanya masa vakum ini bertujuan untuk menghilangkan ketakutan yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuatnya penasaran untuk mengalaminya kembali.” Ketika hal itu benar-benar terjadi pada beliau, beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah Malaikat Jibril ‘alaihissalam untuk ke dua kalinya.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang masa vakum itu, beliau bertutur, “Ketika aku telah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit ternyata Malaikat yang telah mendatangiku ketika di Gua Hira sekarang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Akupun terkejut karenanya hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku pulang kepada keluargaku sembari berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” lantas menyelimutiku, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firmannya:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥

“Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,” (QS. Al-Muddatsir: 1-5). Setelah itu wahyu turun secara berkesinambungan dan teratur.

Dalam shahih al-Bukhari disebutkan, “Aku tinggal di Gua Hira selama sebulan. Lalu tatkala sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku berada di sebuah lembah, ada suara yang memanggilku…” Inti darinya bahwa ayat tersebut turun setelah beliau menjalani bulan Ramadhan secara penuh di sana. Dengan demikian berarti masa vakum antar dua wahyu tersebut berlangsung selama 10 sebab beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi menjalani Ramadhan berikutnya setelah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana datang masa kenabian yang berjarak rentang masa vakum turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (tugas syari’at) besarta penjelasan konsekuensinya. []

 

Sumber: Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 1421 H. Ar-Rahiq al-Makhtum, Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم , Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Jakarta: Darul Haq.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline