Picture: Dreamstime

Keberaniannya Menghadang Pasukan, Mempercepatnya ke Surga

Abdullah bin Zubair, salah seorang sahabat yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Ayahnya adalah al-Hawari (pembela) Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Ayahnya juga merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk Islam. Ayah Zubair bin Awwam adalah anak dari Shafiyyah binti Abdul Muthalib, yakni bibi Rasulullah. Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar.

Zubair bin Awwam termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk Surga. Dengan darah orang-orang mulia yang mengalir di tubuhnya, tak heran jika Abdullah bin Zubair tumbuh menjadi sosok yang mengagumkan, shaleh dan pemberani.

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ia bertugas sebagai salah seorang penyusun Al-Quran. Ia juga terkenal sebagai sosok yang rajin dan tekun.

Pada usia 12 tahun, Zubair bin Awwam sudah terlibat dalam peperangan. Ia mengikuti perang Yarmuk bersama ayahnya. Empat tahun kemudian, ia kembali bersama ayahnya untuk bergabung dengan pasukan Amr bin Ash di Mesir.

Di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam bersama bibinya Aisyah, menuntut agar khalifah Ali menyelesaikan tugasnya terkait dengan pembunuhan khalifah sebelumnya, Utsman bin Awwam. Bersama sekelompok kaum Muslimin lainnya, mereka menunda untuk membaiat Ali sebelum menuntaskan kasus tersebut.

Pada masa Dinasti Bani Umayyah, Abdullah menentang Muawiyyah meski belum secara terang-terangan. Setelah pengangkatan Yazid bin Muawiyyah sebagai khalifah atas penunjukan ayahnya, barulah Zubair secara terang-terangan menentang kekhalifahannya.

Pada Masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj bin Yusuf yang kala itu dipilih sebagai gubernur, berhasil melumpuhkan perlawanan Zubair setelah sekitar tujuh bulan diserang.

Perjuangan Zubair tidak sampai disitu, ia terus membangun strategi untuk kembali menyerang dan berusaha melumpuhkan Hajjaj dan pasukannya yang fasik itu. Dibantu semangat oleh ibunya, Asma binti Abu Bakar, Zubair seolah mendapatkan semangat dan amunisi baru.

Zubair bin Awwam kemudian  keluar dari tempatnya, lalu maju dengan penuh keberanian menghadang pasukan Hajjaj. Namun Ia pun berhasil ditangkap lalu dibunuh, setelah itu jasadnya dinaikkan ke tiang gantungan dan disalib di bukit Tsaniyyatul Wada.

“Apa pendapatmu dengan apa yang telah kulakukan kepada anakmu, wahai Asma?” ucap Hajjaj kepada Asma.

“Engkau telah merusak dunianya, namun ia telah merusak akhiratmu,” jawab Asma dengan tabah dan tegar.

Hari itu menjadi hari duka atas terbunuhnya seorang putra hawari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. []

Sumber: Khazanah Intelektual, Para Abdullah di Sekitar Rasulullah, Sya’ban 1434 H., hal 21, 22, 23, 24.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline