Foto: Freepik

Kebaikan Nabi

Siapa pun yang bertemu beliau saw. akan terpesona karena kebaikan penampilan. Lebih akrab seseorang dengan Rasul, kian tertarik dan kagum.

Seperti itulah kesaksian Anas bin Malik r.a. “Aku tinggal dan membantu rumah tangga Nabi saw. selama sepuluh tahun, dan belum pernah beliau mengeluh ‘ah’ terhadapku. Belum juga beliau saw. menegurku, ‘Kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.” (HR. Ahmad)

Anas r.a. pun memberikan kesaksian tentang Rasul. “Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling berani.” (HR. Ahmad)

Inilah yang mesti dipegang tiap mukmin. Bahwa, kebaikan sekecil apa pun mendapat balasan dari Allah swt. Dari sinilah, dasar kebaikan yang dilakukan bukan karena mengharap pujian, simpati, bahkan imbalan uang. Tapi, tulus karena ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat ciptaan Yang Maha Pengasih, Allah swt.

Memang, tidak semua manusia mampu menangkap kebaikan sebagai sebuah hadiah besar dari seseorang. Tidak heran jika sebuah kebaikan tidak berbalas kebaikan. Bahkan, buat mereka yang hatinya tertutup dari cahaya Allah, kebaikan besar dari Yang Maha Besar pun terasa biasa-biasa saja. Tidak ada syukur. Apalagi dari sekadar manusia biasa.

Dari situlah, pemahaman bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan yang lebih besar dari Allah swt. sangat penting. Firman Allah swt., “Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16: 97)

Dalam surah lain, Allah swt. juga berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. 55: 60)

Yang menarik, ada kebaikan yang terus mengalir karena sebab satu kebaikan. Sebuah pelajaran baik pada seseorang yang membuahkan perbuatan baik akan mengalirkan kebaikan pada si pendidik. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.” (HR. Bukhari). []

About Admin 1

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline