Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kalau Ini Kehendak Tuhan, dan Kehendak Nabi…

0 11

Menurut Mughirah, bila salah seorang teman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam ingin memanggil beliau, mereka akan mengetuk pintu dengan ujung kuku mereka terlebih dahulu.

Pernah suatu malam purnama beliau tidur berselimut warna merah. Jabir ibn Samirah, sahabat Nabi yang menemani beliau waktu itu, sebelum tertidur sempat memperhatikan Nabi. Barang sebentar melihat Nabi, sebentar kemudian melihat rembulan. Akhirnya dia berkesimpulan bahwa beliau lebih indah dipandang dibanding bulan purnama.

Ketika beliau dihujani anak panah oleh barisan musuh, pengikut-pengikutnya membentuk lingkaran mengelilingi beliau untuk melindungi. Mereka rela tertembus panah demi keselamatan beliau . Mereka tegak berdiri seolah badan mereka terbuat dari kayu, bukan terbuat dari daging dan darah. Anak panah bergelantungan di tubuh mereka hingga terlihat seperti duri pohon kaktus.

Umumnya pemujaan dan rasa sayang yang demikian besar dapat menyebabkan keangkuhan dan bisa pula menimbulkan rasa berkuasa yang berlebihan. Tetapi tidak demikian dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Beliau tetap hidup biasa seperti umatnya. Tidak ada kritik pedas atau pujian yang dapat mengusik ketenangan sikap beliau.

Pernah seorang penduduk gurun mendatangi beliau dan dengan sangat keras menarik syal yang beliau kenakan hingga meninggalkan bekas di leher beliau.

“Muhammad!” hardiknya, “berikan kepadaku barang sebanyak dua kali muatan unta karena uang yang kau kuasai sekarang ini bukan uangmu dan juga bukan uang ayahmu.”

Beliau hanya berkata lembut, “Semua yang ada di dunia ini milik Alllah, dan aku adalah hamba sahaya-Nya.”

Kemudian beliau bertanya kepada si penduduk gurun, “Karenanya, tidakkah engkau merasa takut pada perbuatanmu beberapa saat yang lalu?”

Orang gurun diam saja. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam bertanya mengapa dia hanya diam.

Related Posts

Ketakutan Ali Bin Abi Thalib Menjelang Kewafatannya

“Karena aku tahu engkau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,” kata orang gurun.

Mendengar itu, Nabi tersenyum dan memberikan satu unta bermuatan gandum dan unta lain bermuatan kurma. Selama hidupnya Nabi mengagumi Tuhannya sehingga setiap tindakan beliau selalu menggambarkan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Beliau jarang berbicara. Meski-pun demikian, setiap langkahnya menjadi gambaran perintah Tuhan. Kritik yang beliau terima tidak pernah membuatnya marah.

Setiap mengenakan pakaian beliau selalu sambil mengucapkan, “Aku adalah hamba Tuhan, dan aku berpakaian sepantas mungkin sebagai hamba-Mu.”

Beliau akan duduk dengan takzim sambil menyantap hidangan, dan berkata, “Beginilah seharusnya seorang hamba Tuhan makan.”

Beliau sangat peka dalam hal ini. Suatu ketika seorang sahabat beliau berkata, “Kalau ini kehendak Tuhan, dan kehendak Nabi, …,” raut muka Nabi langsung berubah lantaran marah.

“Apakah engkau mencoba mensejajarkan aku dengan Tuhan?” tanya Nabi berang.

“Seharusnya diucapkan `hanya atas kehendak Tuhan’.” []

Sumber: Muhammad Nabi Untuk Semua/ Penulis: Maulana Wahiduddin Khan/ Penerbit: PT Pustaka Alvabet, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline