Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ka’bah Menjumpai Rabi’ah Al-‘Adawiyah

0

Setiap tahun, Rabi’ah Al-‘Adawiyah menunaikan haji, kecuali ketika ia sudah sangat tua dan udzur. Ketika Rabi’ah Al-‘Adawiyah sampai di tanah suci, kebetulan pada tahun yang sama Ibrahim bin Adham ada di sana. Ibrahim pergi ke tanah suci dengan berjalan kaki, memakan waktu 40 tahun.

Mengapa sampai begitu lama?

Karena setiap melangkahkan kakinya, ia berhenti untuk mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Sewaktu Ibrahim bin Adham sampai di tujuan, Ka’bah tak ada di tempatnya.

Karena sedih, ia menangis sejadi-jadinya. “Apakah mataku sudah buta, sehingga aku tak bisa melihat Ka’bah?”

Tiba-tiba ia terdengar suara, “Wahai Ibrahim, engkau tak buta, tapi Ka’bah sedang pergi menemui Rabi’ah.”

Ibrahim terharu mendengar kejadian luar biasa itu. Kemudian, ia sadar dan melihat Ka’bah telah kembali di tempatnya. Ketika itulah, Ibrahim melihat Rabi’ah Al-‘Adawiyah datang memakai tongkat.

“Wahai Rabi’ah, alangkah mulianya amalmu. Semua orang mengatakan Ka’bah telah pergi menemuimu,” sapa Ibrahim pada Rabi’ah Al-‘Adawiyah.

“Wahai lbrahim, sesungguhnya, Tuhan Ka’bah inilah yang kutuju. Kekaguman apa yang engkau sebarkan di dunia? Bukankah engkau datang kemari dengan berjalan selama 40 tahun? Semua orang mengatakan bahwa setiap langkah engkau berhenti dan melaksanakan shalat dua rakaat. Ada juga yang mengatakan, ‘Bila orang lain berjalan kaki, tapi engkau berjalan dengan menggunakan kepala?'” urai Rabi’ah Al-‘Adawiyah.

“Benar. Aku menghabiskan 40 tahun untuk melewati padang pasir itu,” kata Ibrahim.

“Wahai Ibrahim, engkau datang dengan shalat sunnahmu, sedangkan aku datang dengan kefakiranku. Aku datang tanpa memikirkan duniawi. Yang ada hanya harapan pada nikmat dan pemberian Allah,” Rabi’ah Al-‘Adawiyah menerangkan.

Kemudian ketika Rabi’ah Al-‘Adawiyah berada di samping Ka’bah, ia munajat kepada Allah, “Tuhanku, sungguh gemetar hatiku ketika sendirian begini, aku berasal dari tanah liat dan Ka’bah ini dari batu. Yang kuinginkan sekarang adalah melihat wajah-Mu.”

Ketika Rabi’ah Al-‘Adawiyah selesai munajat, tiba-tiba datang seruan dari sisi Allah, “Wahai Rabi’ah, adakah engkau mau dunia ini dibanjiri dengan darah karena permintaanmu seorang? Ketahuilah, sesungguhnya Musa, ketika ingin menyaksikan wajah-Ku, hanya Ku-perlihatkan selintas cahaya-Ku di atas gunung, ia langsung tersungkur!” []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline