Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Jenazah yang Tak Terjamah

0

Sulafah binti Sa’d berdiri di tepian medan Uhud dengan harap cemas, ia menunggu anak-anak dan suaminya yang dari tadi tidak kunjung nampak. Meski perang telah usai dan kemenangan pun telah diraih, dengan gundah hati ia masuk ke medan pertempuran dan mengamati satu per satu mayat yang bergelimpangan.

Sulafah histeris tatkala memandang mayat pertama yang dilihatnya adalah suaminya. Tak jauh dari situ, jasad dua anaknya pun dilihatnya terbujur kaku dipenuhi luka. Sulafah kembali melihat sekeliling, didapatinya suara rintihan anaknya yang lain. Dengan segera ia mendekat dan membaringkan kepala anaknya yang sekarat di pahanya.

Dengan dada bergemuruh penuh rasa dendam, ia bertanya, “Siapakah yang membunuh ayah dan saudara-saudaramu, nak?”

‘Ashim bin Tsabit, wahai Ibu…” jawab si anak sebelum nafasnya berakhir.

Air mata Sulafah berlinang, dadanya dipenuhi dengan dendam dan kebencian. Ia bersumpah tidak akan menghapus air matanya sebelum para pemimpin Quraisy membantunya mendapatkan kepala ‘Ashim bin Tsabit. Ia pun menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menyerahkan mayat ‘Ashim kepadanya.

Kemudian beberapa saat setelah Perang Badar, Ashim bin Tsabit beserta beberapa rekannya mendapat tugas dari Rasulullah untuk mendatangi suatu tempat. Di tengah jalan, mereka dihadang dan dikepung oleh bani Hudzail.

“Menyerahlah! Kami tidak akan menyakiti kalian jika kalian menyerahkan diri!” kata mereka.

“Sungguh kami tidak percaya pada kata-kata kaum musyrik!” jawab ‘Ashim dengan tegas.

Pertarungan pun tidak dapat dielakkan. ‘Ashim berdoa, “Ya Allah, aku menjaga agama-Mu dan berperang karena-Mu. Maka lindungilah tulang dan dagingku, jangan biarkan seorang musuh pun dapat menjamahnya.”

Read More

Akhirnya utusan Rasulullah yang ketika itu hanya berjumlah 10, tak mampu menghalau bani Hudzail yang hampir 100 orang jumlahnya. Hanya tiga orang yang tersisa dan menjadi tawanan. Selebihnya tewas, termasuk ‘Ashim bin Tsabit.

Berita kematian ‘Ashim pun menyebar cepat. Para pemimpin kaum Quraisy di kota Makkah segera mengirim utusan kepada bani Hudzail agar menyerahkan mayat ‘Ashim untuk kemudian mereka bisa memenggalnya. Mereka membawa uang dalam jumlah yang banyak sebagai imbalan dari Sulafah yang bermimpi segera menjadikan batok kepala ‘Ashim sebagai tempat minum Khamr.

Bersama pasukannya, mereka pun kembali ke tempat terbunuhnya para utusan Rasulullah. Mereka mendekati mayat ‘Ashim dengan pedang terhunus. Namun, mereka mendadak terjengkang melihat ratusan lebah tiba-tiba mendengung-dengung di sekitar jenazah ‘Ashim. Serangga-serangga itu menyengat , menggigit wajah, tangan, kaki dan bagian tubuh mereka yang lain.

“Kita mundur dulu, tunggu sampao malam hari. Lebah-lebah itu pasti sudah pergi,” kata pemimpin bani Hudzail.

Pasukan bani Hudzail pun menunggu hingga hari gelap. Ketika mereka hendak mendekati jenazah ‘Ashim, mendadak langit pun menggelap. Petir dan kilat silih berganti, lalu turun hujan yang sangat deras. Air mengalir dari bukit-bukit hingga memenuhi lembah.

Tatkala hujan berhenti dan langit pun kembali cerah, pasukan bani Hudzail bersorak girang. Mereka ingin segera mencari dan menemukan mayat ‘Ashim, dengan terbayang-bayang harta yang akan ia peroleh dari dibawanya kepala ‘Ashim.

Semua orang dari pasukan bani Hudzail dengan cermat menyisir pohon dan semak-semak tempat terbunuhnya ‘Ashim, namun tak kunjung ditemukannya mayat ‘Ashim.

Dengan rasa kesal dan marah, bani Hudzail pun pulang tanpa membawa hasil.

Doa ‘Ashim telah dikabulkan oleh Allah Ta’ala, jenazahnya tidak dapat disentuh sedikitpun oleh orang-orang kafir. Semoga Allah menghanyutkanmu menuju sungai di Surga. []

 

Sumber: al-Qudwah publishing, 77 Cahaya Cinta Madinah, Kisah Cinta Paling Mengharukan Para Sahabat., hal 164, 165, 166.

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More