Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Janggut yang Bersimbah Darah

0 29

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ra, “Engkau (Ali) tidak akan mati, melainkan dalam keadaan janggutmu bersimbah darah.”

Ali ra. sangat memercayai ucapan Nabi Shalallahu alaihi wasallam mengenai kematiannya itu. Dia hanya tersenyum bangga, karena hal itu bermakna bahwa dirinya akan menjemput maut dalam keadaan syahid di jalan Allah.

Pada malam Jumat 17 Ramadhan, mulailah Ibnu Muljam dan kawan-kawan mengadang di hadapan pintu keluar Ali ra. dengan menghunus pedang masing-masing. Seperti biasanya, sang khalifah menghabiskan malam dalam ketaatan: tahajud, zikir, dan muhasabah.

Ketika fajar telah menyingsing, beliau keluar rumah. Saat itu terdengar suara gaduh kokok ayam yang tidak seperti biasanya. Lalu dengan ketajaman bashirahnya, beliau berkata kepada ayam-ayam tersebut, “Sesungguhnya aku akan menjemput syahid.”

Kemudian seperti biasanya, beliau membangunkan orang-orang untuk shalat Subuh sembari berkata, “Shalat… shalat!”

Tiba-tiba, yang pertama kali menyerang adalah Syabib, dia memukulnya cepat mengenai leher beliau. Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke kepala beliau. Darah langsung membasahi sekujur tubuh beliau. Ketika melihat janggutnya bersimbah darah, sang khalifah cersenyum sambil berkata, “Wahai, Nabi, janjimu sungguh benar.”

Dia teringat sabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam ketika beliau masih hidup. Kemudian Ali ra. berteriak, “Tangkap mereka!”

Ketiga begundal itu melarikan diri. Wardan dan Ibnu Muljam berhasil ditangkap, tetapi Syabib berhasil lobos. Ali ra. menyuruh Jadah bin Hubairah untuk mengimami shalat Subuh. Sementara Ali diangkat ke rumahnya. Lalu digiring pula Ibnu Muljam ke hadapan beliau dalam keadaan dibelenggu.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepadanya, “Apa yang mendorongmu melakukan ini?”

Ibnu Muljam berkata,”Aku telah mengasah pedang ini selama em-pat puluh hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini makhluk-Nya yang paling buruk!”

Ali ra. berkata kepadanya, “Menurutku engkau yang harus terbunuh dengan pedang itu. Dan menurutku engkau adalah orang yang paling buruk.”

Kemudian beliau berkata, “Jika aku mati, maka bunuhlah orang ini. Jika aku selamat, aku lebih tahu bagaimana aku harus memperlakukan orang ini.”

Ternyata Ali ra. meninggal dunia dua hari setelah peristiwa itu. Ibnu Muljam pun dipancung sebagai kisas atas pembunuhannya terhadap amirul mukminin. []

Sumber: 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah/ Penulis: Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny/Penerbit: Kalil

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline