Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Janganlah Kamu Meninggikan Suaramu di Atas Suara Nabi

0 77

Serombongan orang dari suku Bani Tamim datang menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Mereka memohon agar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memilih seorang pemimpin bagi suku mereka.

“Pilih saja Al Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin kalian,” kata Abu Bakar, seorang sahabat yang ada di tempat itu.

Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam belum bicara apa-apa.

“Tidak. Lebih baik pilih saja Al-Aqra bin Habis,” kata Umar bin Khattab, sahabat yang lain.

“Ah, kau hanya ingin membantahku saja!” gerutu Abu Bakar kepada Umar bin Khattab. “Tidak, aku tidak membantahmu, Al Aqra bin Habis lebih tepat sebagai pemimpin Bani Tamim.”

Kedua sahabat itu saling bantah. Suara mereka keras, sebagaimana suara orang berdebat. Sementara itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berdiam diri saja. Mahabesar Allah swt, tidak berkenan Nabi-Nya didahului oleh umatnya dalam urusan itu. Tidak berkenan pula orang-orang bersuara keras dalam percakapan dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, seperti dengan sesamanya saja.

Lalu turunlah Malaikat jibril membawa firman Allah swt, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya (dalam perkataan dan perbuatan). Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu di atas suara Nabi. Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam percakapan dengannya, seperti kamu mengeraskan suaramu dalam percakapan dengan sesamamu. Supaya tidak terhapus (pahala) amal-amalmu dan kamu tidak menyadarinya.” (Al Hujuraat : 1-2)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan firman Allah tersebut. Hal itu didengar oleh para sahabat yang ada di tempat itu, termasuk orang-orang Bani Tamim.

“Ya Rasulullah,” kata Abu Bakar dengan suara lembut. “Demi Allah, sejak saat ini aku tidak akan berbicara dengan Anda kecuali seperti seorang saudara membisikkan rahasia kepada saudaranya.”

Umar bin Khathab dan para sahabat lainnya sadar, mereka telah mendahului Allah dan Rasulullah dalam perkara itu. Telah berkata-kata dengan suara keras, seperti terhadap sesamanya, bukan terhadap Nabi Allah. []

Sumber: 31 Cerita Ba’da Isya/Penulis: Sofiah mashuri

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline