Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Jaminan Keamanan Atas Air yang Terbuang

Orang-orang makin padat berdatangan dan suara-suara yang ditimbulkan makin keras. Umar bin Khatab terbangun dari tidurnya dan heran melihat orang makin ramai berkerumun. Beliau juga melihat seorang yang mengenakan pakaian kebesaran, dengan mahkota di kepala dan tongkat bertabur permata indah di tangan.

Umar beralih menatap wajah Ahnaf lalu berkata, “Diakah Hurmuzun.”

Ahnaf menjawabnya, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”

Umar kembali mengamati pakaian dan sutera gemerlapan yang dipakai oleh pemimpin Persia tersebut kemudian memalingkan muka sambil bergumam, “Aku berlindung kepada Allah dari api neraka dan dari dunia ini. Terpujilah Allah yang telah menundukkan orang ini dan orang yang semacamnya untuk Islam.”

Kemudian beliau berkata, “Wahai kaum muslimin. Pegang teguhlah agama ini dan ikutilah petunjuk Nabi kalian  yang bijaksana. Jangan sekali-kali Anda terpesona oleh dunia, karena dunia itu menggiurkan.”

Selanjutnya Ahnaf bin Qais mengutarakan kabar gembir tentang kemenangannya. Ahnaf berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Hurmuzun telah menyerahkan diri kepada kita dengan syarat akan menerima ketetapan Anda atas dirinya. Silakan Anda berbicara sendiri kepadanya jika Anda berkenan.”

Umar berkata, “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakaian kemegahan dan kesombongan itu.”

Mereka pun melucuti semua kemewahan yang dipakai Hurmuzun kemudian memberinya gamis untuk menutupi auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya dan berkata, “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu?”

Dengan menunduk penuh kehinaan Hurmuzun menjawab, “Wahai Umar, pada masa jahiliyah antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami karena hal itu, tapi juga karena kalian bersatu sedangkan kami bercerai berai.”

Umar menatap tajam kepada Hurmuzun dan berkata dengan nada tegas, “Apa yang menyebabkan kalian ingkar janji, Hurmuzun?”

Dia berkata, “Aku khawatir engkau membunuhku sebelum aku menjawabnya.”

Umar menjawab, “Tidak, sebelum engkau menjawabnya.”

Hurmuzun menjadi tenang dengan jawaban tersebut, lalu dia berkata, “Aku haus.”

Umar pun segera memerintahkan untuk mengambil air minum, kemudian seseorang menyodorkan air dalam suatu wadah yang tebal. Melihat hal itu, Hurmuzun berkata, “Sampai mati pun, sungguh aku tidak akan minum dari wadah seperti ini.”

Umar menyuruh petugasnya untuk mengambilkan air dengan wadah yang disukainya. Hurmuzun menerimanya dengan tangan gemetaran. Umar bertanya, “Ada apa dengan engkau?”

Dia menjawab, “Aku takut dibunuh saat meneguk air ini.”

Umar berkata, “Engkau akan aman sampai selesai minum air ini.” Namun Hurmuzun langsung menuang air itu ke tanah.

Umar berkata, “Bawakan air lagi dan jangan kalian bunuh dai dalam kehausan!”

Hurmuzun berkata, “Aku tak butuh air, aku hanya butuh keamanan atas diriku.”

Umar berkta, “Aku akan membunuhmu!”

Hurmuzun menjawab, “Anda sudah bernjanji menjamin keamananku (hingga meminum air yang aku buang tadi).”

Umar berkata, “Engkau bohong.”

Anas bin Malik berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukmin, Anda telah menjamin keamanannya.”

Umar berakta, “Janganlah berlaku bodoh, Anas. Aku menjami keamanan orang yang telah menewaskan adik Anda, Al-Barra’ bin Malik serta Majza’ah bin Tsur?! Tidak! Tidak mungkin!”

Anas berkata, “Tapi Anda berkata, ‘Engkau aman sampai minum air ini.’”

Ahnaf mendukung kata-kata Anas, demikian pula orang-orang yang lain. Umar menatap Hurmuzun dengan geram, “Engkau telah memperdayaiku!”

Mereka berkata, “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, tak satu pun pejabat kita berbuat keji terhadap mereka, menyalahi janji atau menipu.”

Umar berkata, “Lantas mengapa mereka selalu berbalik setiap ada peluang padahal sudah terikat perjanjian?”

Umar tidak merasa puas dengan jawaban para utusan tersebut. Pada saat itulah Ahnaf angkat bicara, “Saya akan coba jelaskan apa yang Amirul Mukminin kehendaki dari pertanyaan Anda.”

Umar berkata, “Katakan apa yang Anda ketahui.”

Ahnaf memperjelas jawaban  para utusan tersebut, “Mereka hendak berkata, ‘Anda melarang kami memperluas kekuasaan di Persia dan memerintahkan agar selalu puas dengan wilayah-wilayah yang ada di tangan kita. Padahal Persia masih beridiri sebagai kekaisaran yang berdaulat, masih punya seorang kaisar yang hidup. Tak heran bila orang Persia itu selalu merongrong kita, sebab mereka ingin merebut kembali rumah-rumah dan harta benda yang ada di tangan kita. Kawan-kawan mereka yang terikat pernjanjian dengan kita berusaha bergabung setiap ada kesempatan dan peluang untuk menang. Memang, tak mungkin ada kekuasaan bersatu dalam satu wilayah, salah satu pasti harus ke luar. Kalau saja Anda mengizinkan kami menaklukkan mereka seluruhnya, barulah akan berhenti makar mereka dan selesai sudah urusan itu.”

Sejenak Umar merenung mendengar uraian itu, lalu berkata, “Engkau benar wahai Ahnaf. Kini terbuka sudah hal-hal yang belum terjangkau oleh akalku tentang kaum itu.”

berkat saran Ahnaflah akhirnya terjadi perisitwa besar sesudahnya. Saran Ahnaf tersebut sangat nampak mempengaruhi putaran roda sejarah. []

Sumber: Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”/ Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya/ Penerbit: Pustaka At-Tibyan

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline