Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Isyarat Kepergian Hamba Pilihan

0

Setiap tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beritikaf 10 hari di bulan Ramadhan. Pada tahun terakhir, beliau beritikaf 20 hari. Jibril membacakan Al-Qur’an kepada beliau satu kali setiap tahunnya di bulan Ramadhan, dan dua kali dibacakannya pada tahun terakhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi menunaikan haji pada tahun kesepuluh hijriyah, beliau bersabda, “Ambillah dariku manasik-manasik kalian. Aku mungkin tidak bertemu kalian lagi setelah tahunku ini.” Itulah sabda Rasulullah yang seakan menjadi isyarat pamitnya Rasulullah di antara pertanda lainnya sebelum beliau wafat.

Bersaman pula dengan turunnya ayat, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al-Maidah Ayat 3)

Related Posts

Shalat Adalah Kekuatan untuk Hamba Allah

Di antara isyarat-isyarat kuat lainnya adalah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah berkhutbah, beliau menyampaikan, ‘Sungguh, Allah telah memberi pilihan pada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Lalu si hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah. ‘ Abu Bakar menangis. Kami merasa heran dengan tangisan Abu Bakar padahal Rasulullah hanya mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan. Rupanya, hamba yang diberi pilihan itu adalah Rasulullah, Abu Bakar paling tahu di antara kami.” (HR. Ahmad (III/18).

Ummul Mukminin Aisyah meriwayatkan, “Suatu hari Rasulullah pulang dari Baqi’ selepas mengantar jenazah. Beliau mendapatiku tengah sakit kepala, aku mengatakan, ‘Aduh, kepalaku!’ Beliau menyahut, ‘(bukan kamu sakit), tapi akulah yang sakit kepala wahai Aisyah.’ Beliau meneruskan, ‘Apa ruginya bagimu andai kau meninggal dunia lebih dulu sebelumku, lalu aku memandikanmu, menshalatkanmu, dan menguburmu.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku merasa jika kau melakukan itu, tentu kau pulang ke rumahku lalu kau beristirahat dengan sebagian istrimu (di rumahku).’ Rasulullah pun tersenyum. Sejak saat itu, beliau mulai jatuh sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia.’” []

 

 

Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad.

 

Sumber: Syaikh Mahmud Al-Mishri. Dzulqa’dah 1437 H. Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Jakarta Timur: Ummul Qura.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline