Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Istri Pengganti untuk Abdullah ibn Abi Wada’ah (Bagian 1)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 32)

Teladan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diikuti oleh Sa’id bin Musayyab, seorang tokoh ulama pada zaman tabi’in dalam menetapkan kekufuan (kecocokan) untuk suami putrinya. Sa’id bin Musayyab menikahkan putrinya dengan Abdullah ibn Abi Wada’ah, muridnya sendiri sangat fakir.

BACA JUGA: Berapakah Perempuan yang Halal Dinikahi Seorang Laki-Laki?

Berikut ini Abdullah menuturkan tentang dirinya, “Saya biasa duduk dengan Ustad Said bin Musayyab dalam majlis pengajian. Suatu hari saya tidak hadir, beliau mencari-cari saya.

Maka, ketika dilihatnya diri saya lagi pada hari yang lain, Ustad bertanya, ‘Kemana saja engkau selama ini?’

‘Ya Ustad, idtri saya meninggal. Saya amat sedih karenanya.’

‘Mengapa engkau tidak mengabarkan kepadaku? Bukankah aku bisa bertakziah untuknya?’ Ustadz menyayangkan.

Ketika saya hendak bangkit Ustadz berkata, ‘Boleh saya tunjukan seorang penggantinya?’

‘Masya Allah, siapakah kiranya yang mau menikahkan diri saya? Saya tidak memiliki sesuatu, kecuali uang sebanyak dua tiga dirham,’ keluhku.

‘Saya, sayalah yang akan menikahkan engkau.’

‘Ustadz akan melakukannya untuk saya?’

‘Betul,’ jawab Ustadz mantap.

BACA JUGA: Pernikahan Zahid yang Berakhir Bulan Madu dengan Bidadari

Ustadz Sa’id membaca tahmid dan shalawat, kemudian menikahkan saya dengan mahar dua dirham. Amat bahagia hati saya, bagai mimpi yang sulit diterima dalam kenyataan. Saya secepatnya pulang seraya memutar otak, kepada siapa dapat mencari pinjaman?

Saya shalat magrib dengan khusyuk, memohon kemudahan jalan kepada-Nya.

Kudengar pintu rumah di ketuk-ketuk orang.

Saya tanya, ‘Siapa kau?’

‘Sa’id.’

Mendengar nama itu disebut, saya berfikir bahwa tiada nama Sa’id yang lain di kota ini, kecuali Ustadz Sa’id bin Musayyab, Tokoh ulama di kotaku. Setelah kubuka pintu,kukatakan kepadanya, ‘Ya Aba Muhammad (maksudnya Ustad Sa’id bin Musayyab) mengapakah Tuan tidak menyuruh seseorang memanggil saya?’ saya terkejut.

‘Sebenarnya memnagengkaulah yang patut untuk datang.’

‘Apa kiranya yang hendak tuan perintahkan kepada saya?’

BACA JUGA: Pesan Pernikahan dari Rasulullah SAW

’Wahai Abdullah, engkau adalah laki-laki yang pernah menikah. Kini engkau menduda, sendirian. Karena itulah saya datangkan istri bagimu sebagaimana telah kunikahkan kepadamu, agar kau tak kesepian.’ []

Sumber: Menikahlah/Karya: Abdullah Nasih Ulwan/Penerbit: Qisthi Press/2007

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline