Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Iri Hati Menghapiri Hisyam, Tatkala Salim bin Abdullah Wafat

Saat itu khalifah Al-Walid bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji dan orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah menjumpai Salim bin Abdullah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdillah mengenakan pakaian ihram.

Al-Walid mengucapkan salam dan doa, khalifah memandangi tubuh Salim yang terbuka, tampak begitu sehat dan kekar bagaikan sebuah bangunan yang kokoh.

BACA JUGA: Salim bin Abdullah: Aku Malu kepada Allah

Al-Walid yang merasa kagum dengan tubuhnya yang terlihat kekar itu pun bertanya, “Bentuk tubuh Anda bagus sekali, wahai Abu Umar, apakah makanan Anda sehari-hari?”

“Roti dan Zaitun dan terkadang daging jika saya mendapatkannya.”

“Hanya roti dan zaitun?”

“Benar.”

“Apakah kamu berselera memakan itu?”

Read More

Mengenal Aswad bin Yazid Lebih Dekat

“Jika kebetulan aku tidak berselera, maka aku tinggalkan hingga lapar hingga saya berselera terhadapnya,” jelas Salim.

Ia tak hanya mirip dengan kakeknya, al-Faruq Umar bin Khattab, dalam bentuk fisik dan kezuhudan terhadap dunia yang fana, namun juga dalam keberaniannya menyampaikan kalimat yang benar meski berat resikonya.

Kehidupan Salim bin Abdillah bin Umar bin Khattab penuh dengan taqwa, akrab dengan hidayah, menjauhi kesenangan dunai dan godaannya, memperlakukannya sesuai dengan jalan yang diridhai Allah. Beliau makan makanan keras dan mengenakan pakaian dari bahan yang kasar, bergabung dengan pasukan muslimin untuk menghadapi Romawi, dan selalu berusaha membantu menyelesaikan masalah kaum muslimin.

Ketika ajal menjemputnya pada tahun 106 H, duka cita menyelimuti kota Madinah. Semua orang datang untuk mengantar jenazah dan menyaksikan pemakamannya. Termasuk Hisyam bin Abdul Malik yang ketika itu berada di Madinah turut menghadiri pemakaman beliau.

BACA JUGA: Salim: Apakah Tadi Engkau Shalat Subuh?

Takjub dengan banyaknya lautan manusia yang mengantar jenazah Salim bin Abdullah, timbul rasa iri di hatinya sehingga di bergumam, “Nanti akan terbukti betapa banyak manusia yang akan menghadiri pemakaman tatkala khalifah muslimin wafat di negeri mereka.”

Kemudian dia berkata, “Kirimkanlah empat ribu pemuda ke perbatasan.”

Maka tahun tersebut dikenal dengan tahun empat ribu. []

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in/Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’at Basya/Penerbit: At-Tibyan,2009

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline