Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Inilah Penyebab Turunnya Surah Al-Insan Ayat 7-10

0

Suatu ketika, salah seorang anak Ali bin Abi Thalib sakit. Berbagai usaha disertai doa ia lakukan demi kesembuhan anaknya. Ali pun bernazar. Apabila anaknya sembuh, ia akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan doanya; kesehatan anak Ali pulih kembali. la pun melaksanakan nazarnya. Bersama istrinya, Fathimah Az-Zahra, Ali menjalankan puasa nazar. Menjelang senja, mereka bersiap untuk buka puasa. Di meja, telah terhidang beberapa potong roti kering dan air putih. Kehidupan keluarga Ali sedang sulit; hanya itulah makanan yang mereka miliki.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dan seseorang mengucap salam. Ali bergegas membuka pintu. Di depan pintu tampak seseorang berpakaian lusuh.

Dengan wajah memelas, ia berkata, “Aku orang miskin. Seharian ini aku belum makan. Perutku sangat lapar. Tolonglah aku; berilah aku sedikit makanan.”

Ali terdiam sejenak. Kemudian, ia mengambil roti bagiannya, lalu menyerahkan roti itu kepada orang itu.

Ternyata, Fathimah juga melakukan hal yang sama. Hari itu, mereka berbuka hanya dengan air putih. Saat masuk hari kedua mereka berpuasa ketika hendak berbuka bersama, tak diduga datang seorang anak. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya pucat.

“Apa yang terjadi denganmu, Nak?” tanya Ali.

Anak itu menjawab, “Aku anak yatim. Ayahku sudah lama meninggal. Beberapa hari ini, ibuku pergi bekerja. Selama itu perutku kosong. Tak ada makanan yang bisa kumakan.”

Ali sangat sedih mendengarnya. Tanpa banyak pikir, ia memberi roti bagiannya kepada anak yatim itu. Apa yang dilakukan Ali lagi-lagi ditiru oleh Fathimah. la menyerahkan roti bagiannya kepada si anak yatim. Hari berikutnya, kejadian yang sama berulang. Menjelang berbuka, datanglah seseorang mengetuk pintu. Orang itu adalah seorang tawanan perang.

“Aku orang muslim yang baru dibebaskan oleh orang kafir,” katanya kepada Ali. “Aku kelaparan sampai tubuhku terasa sangat lemah. Aku mohon, berilah aku makanan.”

Ali dan Fathimah saling berpandangan. Sejak mereka berpuasa nazar, tak sebutir kurma atau sepotong roti pun masuk ke dalam perut mereka. Selama itu, mereka berbuka hanya dengan minum air putih.

Menurut Ibnu Abbas, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an atas kedermawanan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra tersebut.

Dalam QS. Al-Insan ayat 7-10. Allah berfirman, “Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.'” []

Sumber: Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi/Penulis: Siti Nurlaela/Penerbit: Kalil,2013

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline