Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ini yang Terjadi pada Rasulullah Tatkala Zainab Wafat

0

Zainab, putri Rasulullah lahir ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam berusia 30 tahun, sepuluh tahun sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Ia menikah dengan keponakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang bernama Abul Ash bin Rabi. Zainab memeluk Islam ketika ayahnya diangkat sebagai Rasul dan mengemban Risalah Islam, tetapi suaminya tetap dalam kekafiran. Zainab tidak dapat menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin lainnya berhijrah ke Madinah karena ia dalam penguasaan keluarga suaminya.

Suami Zainab, Abul Ash bin Rabi datang ke Madinah pada tahun 6 atau 7 hijriah, kemudian memeluk Islam. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan Zainab kepadanya, karena sebelumnya mereka belum bercerai.

Dari pernikahannya ini ia mempunyai dua orang anak, yaitu Ali bin Abul Ash dan Umamah binti Abul Ash.

Saat perang besar antara kaum muslimin dan musyrikin pun berkecamuk di Badar, dan Abul Ash berada masih di pihak kaum musyrikin. Zainab menanti kabar dengan gundah gulana. Tak beberapa lama berita pun datang, kaum muslimin memenangi peperangan. Zainab merasa sangat bergembira akan kemenangan ayahnya, tetapi bagaimana dengan suaminya?

Abul Ash seperti berita yang ia dengar telah menjadi tawanan kaum muslimin di Yatsrib.

Tebusan untuk Abul Ash sampai ke tangan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau mengenali bahwa perhiasan itu adalah pemberian Khadijah kepada Zainab, yang membuat beliau kembali teringat dengan istri tercintanya dan keadaan putrinya. Itu membuat beliau jadi sedih.

Akhirnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam membebaskan Abul Ash tanpa tebusan, yang merupakan hasil musyawarah dengan para sahabatnya. Uang dan perhiasan tersebut dikembalikan kepada Zainab, tetapi disyaratkan kepada Abul Ash untuk membawa istrinya tersebut ke Madinah jika ia telah sampai kembali di Makkah.

Abul Ash menyetujui perjanjian ini, lalu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan dua orang untuk menjemput putrinya tersebut di luar kota Makkah, di suatu perkampungan bernama Ya’juj. Mereka ini adalah Zaid bin Haritsah dan salah seorang sahabat Anshar. Mereka diminta untuk menemani Zainab sampai ke Madinah.

Sesuai janjinya, setelah sampai di Makkah ia mengantarkan Zainab menemui dua utusan Nabi SAW yang menunggu di luar kota Makkah. Adik Abul Ash, Kinanah bin Rabi mengantarkan seekor unta, yang kemudian dinaiki Zainab. Kinanah sendiri ikut rombongan ke Madinah. Ketika kepergian Zainab ini diketahui oleh kaum Quraisy, mereka sangat marah, mereka mengirimkan satu pasukan untuk menggagalkannya.

Ketika pasukan Quraisy itu telah dekat, salah seorang dari mereka, Habar bin Aswad, yang sebenarnya masih keponakan Zainab, melemparkan tombaknya dan mengenai Zainab, sehingga ia jatuh dari untanya. Zainab yang saat itu sedang hamil, mengalami keguguran. Melihat keadaan ini, Kinanah sesumbar akan melakukan perlawanan dengan panah-panah dan pedangnya. Pasukan Quraisy ini jadi keder juga, mereka tahu benar keahlian Kinanah dalam memanah dan kemampuannya memainkan pedang.

Akhirnya salah seorang anggota pasukan lainnya, Abu Sufyan membujuk Kinanah agar kembali dahulu ke Makkah, dan setelah suasana tenang, satu dua hari kemudian hendaknya ia membawa putri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam secara sembunyi-sembunyi ke Madinah. Usul ini diterima baik oleh Kinanah.

Zainab akhirnya berhasil hijrah ke Madinah dengan diantar Kinanah, tetapi dalam keadaan sakit parah akibat terkena tombak, jatuh dari unta dan keguguran. Ia terus menderita dengan luka-lukanya ini selama beberapa tahun sampai akhirnya wafat pada tahun 8 Hijriah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menurunkan dan menguburkan jenazahnya dalam keadaan yang sangat sedih.

Setelah selesai penguburan, tampak wajah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berseri-seri. Para sahabat menjadi keheranan dan menanyakan perubahan wajah beliau tersebut. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Saya sangat khawatir atas kelemahan Zainab, dan saya berdoa agar Allah meluaskan kuburnya dan membebaskannya dari siksa kubur, dan Allah mengabulkan doaku.” []

Baca juga: Kisah Ummu ‘Athiyyah, Memandikan Jenazah Putri Rasulullah

Referensi: 101 Sahabat Nabi/Penulis: Hepi Andi Bustomi/Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline