Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ini Ternyata yang Membuat Rasulullah Begitu Bahagia Bertemu dengan Zaid

0

 

Suatu ketika datang seorang Badui ke Madinah untuk menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya di Madinah, ia menambatkan untanya di depan Masjid dan menyampaikan salamnya kepada Rasulullah. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama sembilan hari. Setelah itu saya menuntunnya lagi selama enam hari secara terus menerus. Berpuasa di siang hari dan jarang tidur di malam harinya, sehingga tungganganku sangat lelah. Semua itu saya lakukan hanya untuk menanyakan dua masalah yang merisaukan saya selama ini sehingga menyebabkan saya sulit untuk tidur.”

Rasulullah memandang lelaki badui itu dengan kagum, seorang muslim sederhana yang telah berjuang begitu beratnya menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh penjelasan langsung dari Rasulullah tentang dua masalah. Beliau bersabda, “Siapakah engkau?”

“Zaid al Khoil (Zaid, sang unta),” Kata Zaid.

Tampaknya Rasulullah kurang berkenan dengan namanya tersebut, seolah-olah kurang jelas mendengar jawabannya, beliau bersabda, “Oh, jadi namamu Zaid al Khoir (Zaid, yang penuh kebaikan)?”

Jelas sekali kalau Rasulullah ingin mengganti namanya, dan Zaid sangat senang dengan penamaan Rasulullah tersebut. Ia berkata, “Benar, ya Rasulullah, saya Zaid al Khoir.”

Setelah itu beliau berkata lagi, “Tanyakanlah! Apa yang selama ini membuatmu risau.”

Zaid berkata, “Saya ingin bertanya kepadamu tentang tanda orang yang disukai Allah dan tanda orang yang dimurkai-Nya.”

“Untung…Untung…” Kata Rasulullah, tampak sekali kegembiraan beliau atas pertanyaan tersebut, tidak salah kalau namanya memang ‘Al Khoir’. Kemudian beliau bertanya lagi, “Bagaimana keadaanmu kini, hai Zaid?”

Zaid menjawab, “Saya sekarang ini senang dengan amal kebaikan, senang dengan orang-orang yang mengamalkan kebaikan, dan senang dengan tersebarnya amal kebaikan. Saya menyesal jika tertinggal akan amal kebaikan dan rindu untuk melakukan kebaikan. Jika saya melakukan kebaikan, sedikit atau banyak, saya yakin akan pahalanya.”

Rasulullah bersabda, “Ya itu, itulah dia tandanya. Andaikata Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan hal yang lain yang berlainan dari yang kaukatakan itu, dan Dia tidak akan perduli di jurang mana engkau akan binasa.”

“Cukup, cukup, ya Rasulullah!” Kata Zaid, seolah ia tidak ingin beliau menjelaskan lebih lanjut.

Setelah mengucap terima kasih dan mengucapkan salam perpisahan, Zaid keluar dari masjid dan menaiki kendaraannya, dan memacunya pulang.

Wajah Rasulullah makin bersinar saja tanda beliau sangat gembira. Bagaimana tidak gembira? Musafir dari jauh ini tidak setiap saat bertemu dan bergaul dengan Rasulullah, tetapi dia bisa merasakan nuansa kasih sayang Allah begitu mendalam, sebagaimana yang dirasakan sahabat-sahabat yang selalu hadir di sekitar sosok “Rahmatan lil ‘alamin” ini, Nabi Muhammad SAW. []

Sumber: Kisah Sahabat Nabi/ Az-Zikr Studio/ 2016

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More