Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ini Pengakuan ‘Amr Bin Ash Menjelang Kepergiannya

0

Abu Syumasah ra. mengisahkan bahwa ia dan beberapa orang sahabat mengunjungi ‘Amr bin Ash ra. menjelang kewafatannya. Waktu itu ‘Amr sedang menangis tersedu-sedu dan menghadap dinding.

“Wahai ayahku,” ucap anak ‘Amr. “Bukankah Rasulullah pernah menyampaikan berita gembira kepadamu dengan ini. Bukankah Rasulullah pernah menyampaikan berita gembira kepadamu tentang hal itu.”

Lalu ‘Amr bin ‘Ash berpaling memandang anaknya, “Sungguh, sebaik-baik yang saya persiapkan adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Setelah terdiam sejenak, ‘Amr berkata, “Saya telah mengalami tiga zaman. Pertama, saya pernah membenci Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Barangkali tidak ada seorang pun yang membencinya melebihi saya. Waktu itu tidak ada yang saya inginkan, kecuali membunuh beliau. Seandainya saya meninggal waktu itu, pastilah saya termasuk ahli neraka.”

Para sahabat yang mendampinginya hanya terdiam mendengarkan.

“Kedua, ketika Allah Swt memasukkan hidayah (petunjuk) Islam ke dalam hati saya,” ujar ‘Amr bin Ash ra. lagi.

“Saya mendatangi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam Saya katakan kepada beliau, `Ulurkanlah tangan kananmu karena saya akan berbaiat (berjanji setia) kepada engkau. Setelah beliau mengulurkan tangan kanan, saya menariknya.

Beliau bertanya, ‘Ada apa, ‘Amr?’

Saya menjawab, ‘Saya ingin mengajukan syarat.’

Rasulullah bertanya, ‘Apakah syarat yang engkau maksud?’

Saya katakan, ‘Saya ingin dosa-dosa saya diampuni.’

Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya. Demikian pula dengan haji menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.'”

Semua yang mendampingi ‘Amr masih terdiam membisu.

Amr bin ‘Ash ra. menyatakan, “Pada saat itu tidak ada yang saya cintai melebihi cinta saya kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan tidak ada orang yang lebih mulia di hadapan saya melebihi beliau sehingga saya tidak sanggup memandang wajah beliau karena mengagungkannya. Sekiranya saya diminta menerangkan sifat-sifat beliau, niscaya saya tidak mampu menerangkannya karena saya tidak menatap beliau dengan mata saya. Andai waktu itu saya meninggal, besar harapan saya menjadi ahli surga.

Ketiga, ketika saya memegang beberapa jabatan, saya tidak tahu bagaimana keadaan diri saya. Karena itu, jika saya meninggal dunia, janganlah saya diiringi dengan tangisan dan ratapan. Apabila kalian mengubur saya, cepat-cepatlah menimbun dengan tanah. Lalu berdirilah kalian di sekitar kubur saya selama sekitar tukang jagal menyembelih dan membagi-bagikan daging sembelihannya hingga saya merasa senang dengan keberadaan kalian.’ (HR. Muslim). []

Sumber: 1500++ Hadis & Sunah Pilihan/Penulis: Syamsul Rizal Hamid/Penerbit: Kaysa Media

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline