Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ini Penderitaan yang Dirasakan Kaum Muslim dalam Peristiwa Pemboikotan

Kebodohan orang Quraisy mencapai puncaknya. Para pemimpin kabilah menuntut untuk diadakan pertemuan. Hingga akhirnya mereka berkumpul dan sepakat untuk memboikot kaum Muslim dan Bani Hasyim dengan pemboikotan yang dianggap merupakan bentuk pelarangan yang paling keras, serta merupakan bentuk perang ekonomi dan sosial. Mereka menguatkan hal tersebut dengan menuliskannya dalam lembaran yang digantungkan di tembok Ka`bah. Karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan keluarganya dan orang-orang Islam serta anggota keluarga Bani Hasyim yang mengikutinya keluar ke Syi’b Abu Thalib, yang merupakan daerah pinggiran Kota Makkah yang terletak di kaki Gunung Abu Quraisy.

Bani Hasyim yang merupakan kaumnya ikut bergabung pergi ke tempat tersebut. Di sana mereka hidup susah dan sempit dalam suasana terkungkung dan dalam pemboikotan, sehingga mereka memakan daun-daun pepohonan karena sangat lapar. Mereka tinggal di sana dalam keadaan seperti itu selama kurang lebih tiga tahun. Terkadang sampai kepada mereka bahan pokok dan makanan secara sembunyi-sembunyi, khususnya dari sebagian kerabat mereka yang tinggal di Makkah.

Suatu hari, Abu Jahal melihat Hakim ibn Hisyam ibn Khuwailid berjalan mengendap-endap bersama budaknya yang membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah rhadiyallahu ‘anha. Abu Jahal kemudian menyergapnya dan membentaknya, “Apakah kamu pergi ke Bani Hasyim dengan membawa makanan? Demi Tuhan, jangan tinggalkan tempatmu, sampai aku mempermalukanmu di Makkah.”

Sa’ad ibn Abi Waqash rhadiyallahu ‘anhu bercerita, “Sungguh aku merasa sangat lapar. Pada suatu malam aku menginjak sesuatu yang basah, lalu aku mengambilnya dan menelannya. Hingga sekarang aku tidak mengetahui apa yang kutelan itu!”

Dalam beberapa riwayat disebutkan, benda yang basah itu adalah kotoran unta. Hisyam ibn Amr ibn Rabi`ah Al-Amiri adalah penduduk Kota Makkah yang termasuk salah seorang yang berempati terhadap kezaliman dan siksaan yang diterima orang-orang Islam. Pada malam hari dia datang dengan membawa unta yang membawa makanan hingga sampai di mulut jalan masuk ke Syi’b. Di sana dia melepaskan tali kekang untanya, kemudian memukulnya hingga unta itu lari masuk ke tempat Bani Hasyim. Mereka menangkapnya, seakan-akan unta itu merupakan nikmat yang didatangkan Allah untuk mereka dari langit. []

Sumber: Perempuan Agung de Sekitar Rasulullas Saw/ Penulis: Muhammad Ali Quthb/ Mei, 2009

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline