Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ini Awal Bermulanya Penyembahan Berhala

0

Pada zaman Nabi Nuh, baik penyembah berhala maupun api, sudah ada Asal mula orang menyembah berhala adalah karena dahulu ada 5 orang yang sangat kuat beribadah, mereka bernama:

1. Wad

2. Suwa`

3. Nasr

4. Yaghuts

5. Ya`uq

Tatkala Wad meninggal dunia, datanglah Iblis dengan menyamar sebagai manusia, ia mengatakan, “Wad perlu dibuatkan monumen untuk mengenang keshalehannya. Supaya dia tetap diingat dan dicontoh oleh orang-orang di belakang kita.”

BACA JUGA: Wahai Rasulullah, Apa yang Dikatakan Berhala Tersebut? (1)

Karena anjuran itu terlihat sangat baik, dibuatlah patung serupa Wad. Patung itu ditaruh di mushalla, di mana Wad dulu biasa beribadah. Demikian pula sewaktu wafatnya Suwa’, Nasr, Yaghuts, dan Ya’uq, masing-masing dibuatkan patung. Karena tempat beribadah kelima orang itu sama, yakni di mushala tempat Wad beribadah, berderetlah 5 buah patung di mushalla itu.

Sepeninggal kelima orang shaleh tersebut, kegiatan amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan umat pada masa itu semakin menggembirakan. Tapi semakin lama, semakin mereka lalai terhadap ibadah. Mereka semakin lupa kepada Allah ta’ala dan hari kiamat. Akhirnya ibadah itu dilupakan sama sekali. Sekian lama waktu berselang, Iblis datang menyamar lagi. Kedatangannya yang kali kedua itu adalah untuk memasukkan manusia ke dalam jeratnya. Berkatalah ia kepada orang banyak, “Mengapa engkau sekalian tidak suka beribadah seperti orang-orang dahulu?”

“Apa yang akan kami sembah?” tanya orang banyak.

“Sembahlah patung-patung yang ditinggalkan oleh nenek moyangmu di mushalla itu! Itulah pusaka yang paling berharga.”

BACA JUGA: Wahai Rasulullah, Apa yang Dikatakan Berhala Tersebut? (2-Habis)

Dan mulailah orang-orang menyembah patung. Patung-patung itu mereka bagi untuk menjadi tuhan mereka. Mereka yang tidak kebagian, segera saja membuat patung tiruan. Dan berkembanglah agama patung di sebagian penjuru negeri. []

Sumber: Air Mata Para Nabi/ Penulis: Haji Lalu Ibrohim M.T./ Penerbit: Pustaka Pesantren, 2012

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline