Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ibrahim: Ayah Bagaimana Cara Tuhan Bernafas?

Ibrahim kecil merasa tak pernah puas dengan setiap jawaban ayahnya, sehingga Ibrahim terus-menerus bertanya berharap akalnya terpuaskan dengan jawaban sang ayah.

Ibrahim kembali bertanya,”Oh Ayah, seperti apa sih tuhan-tuhan itu?”

Kisah sebelumnya: Ibrahim: Ada Berapa Banyak Tuhan, Ayah?

Sang ayah menjawab, “Ini adalah tuhan yang aku buat dari kayu palma, sedangkan yang itu dari kayu ivory, dan yang di sana terbuat dari kayu zaitun. Bagus bukan tuhan yang ayah buat, hanya saja mereka tidak bisa bernapas!”

“Lalu, Ayah jika tuhan-tuhan itu tidak bernapas, bagaimana caranya mereka memberi napas kepada manusia? Jika mereka tidak hidup, bagaimana mereka bisa memberi kehidupan pada manusia?”

Sang Ayah mulai terlihat gusar mendengar pertanyaan Ibrahim yang bertubi-tubi. Ibrahim melanjutkan perkataannya kembali, “Ayah, jika tuhan itu terbuat dari kayu, kenapa Ayah menebangi pohon? Berarti Ayah sudah menebang tuhan. Bagaimana cara tuhan kayu itu membantu manusia untuk menciptakan manusia lainnya? Siapakah tuhan yang pertama ada? Bagaimana Ia ada? Apakah jika begitu, berarti manusia yang lebih dulu ada untuk membuat semua tuhan-tuhan ini?” Tanya Ibrahim sambil menunjuk patung berhala kayu yang dibuat ayahnya.

Sang Ayah duduk terhenyak, kaget oleh pertanyaan anaknya. Mengapa selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu? selama ini sang ayah hanya menjalankan pekerjaan yang telah dilakukan turun temurun oleh leluhurnya. Tanpa pernah merenungkan atau mempertanyakan semua hal seperti yang disampaikan anaknya, Ibrahim.

Usia Ibrahim 12 tahun, sudah menjelang remaja, saat ayahnya berkata, “Besok adalah hari raya festival tuhan. Engkau harus memilih salah satu tuhanmu, karena engkau telah cukup umur untuk memilih tuhanmu,”

“Baik, ayah” sahut Ibrahim.

Malam itu Ibrahim tak bisa tidur. Gelisah memikirkan hari esok. Ia tak mau menjadikan patung itu sebagai tuhannya. Pikiran itu terus mendera hingga Ibrahim kurang tidur. Esok harinya, Ibrahim mengeluh sakit hingga tidak bisa ikut merayakan festival tuhan. Akhirnya Ibrahim ditinggal sendirian di rumahnya. Pada saat itulah, Ibrahim mendatangi tempat ibadah di mana semua patung itu disimpan. Ibrahim bertanya pada para patung, bagaimana mereka makan? Bagaimana mereka bicara? Apakah mereka bisa menghidupkan? Namun semua pertanyaan Ibrahim berlalu begitu saja ditelan angin. Ya, patung-patung itu tentu saja tidak bisa berbicara. Mereka hanya benda mati yang diciptakan manusia. Jika patung itu diciptakan manusia, lalu siapakah yang menciptakan manusia? Demikian pikir Ibrahim.

Ibrahim berniat memberikan pelajaran pada masyarakat agar mereka tidak menyembah patung lagi. Sudah saatnya mereka mencari Tuhan sejati, Tuhan yang sesungguhnya, yang menciptakan manusia, yang abadi. Tuhan sejati tak akan hancur dan bisa menjawab pertanyaan manusia. Lalu mulailah lbrahim menghancurkan semua patung-patung itu dan hanya menyisakan sebuah patung besar bernama Baal. Ibrahim meletakkan kapak dengan cara mengantungkannya pada leher Baal si berhala yang paling besar. []

Sumber: The Prophet; Kisah Hikmah 25 Nabi Allah/ Penulis: Dian Noviyanti/ Penerbit: Gramedia Pustaka, 2017

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline