Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ialah Manusia Tanpa Sekerat Daging pun di Wajahnya

0

“Peminta-minta mempunyai hak, sekalipun dia datang sambil menunggang seekor kuda.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud).

Terdapat pula larangan meminta-minta, yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ia berkata,  “Rasulullah bersabda, “Salah seorang di antara kalian senantiasa meminta-minta, hingga dia bersua Allah SWT, sedang di mukanya tidak ada segumpal daging pun.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”

Beliau juga pernah menyebutkan tentang menahan diri agar tidak meminta-minta, lalu beliau bersabda, “Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tangan yang di atas artinya yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah artinya yang meminta-minta. Dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa yang meminta-minta padahal dia mempunyai apa yang memenuhi kebutuhannya, maka perbuatannya itu akan datang pada Hari Kiamat sebagai lalat atau cakar di mukanya.” (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Ahmad).

Meminta-minta diperbolehkan jika dalam keadaan mendesak dan ada kebutuhan yang sangat penting atau mendekati keadaan itu. Sedangkan orang yang terpaksa ialah seperti orang lapar yang meminta-minta, karena di mengkhawatirkan keadaan dirinya yang bisa jatuh sakit atau bahkan mati, atau orang yang tidak mempunyai pakaian, lalu dia meminta-minta untuk mendapatkan pakaian yang bisa menutupi auratnya.

Namun, pada dasarnya meminta-minta itu adalah haram. Karena meminta-minta itu tidak lepas dari tiga perkara:

  1. Keluh kesah.
  2. Menghinakan diri sendiri, padahal tidak selayaknya orang mukmin menghinakan diri sendiri.
  3. Biasanya disertai cacian terhadap orang yang dimintai.

Syaikh Jamaluddin berkata, “Jelasnya, selagi orang fakir dapat melewati tanpa meminta-minta, maka dia tidak boleh meminta-minta. Jika ada perasaan enggan, maka harus ditimbang-timbang. Jika dia tidak mampu bertahan dengan keadaannya dan dia tidak takut mati, maka boleh saja dia meminta-minta, namun yang lebih baik adalah tidak meminta-minta. Jika dia benar-benar tidak sanggup menghadapi keadaannya, maka dia harus meminta-minta.” []

Sumber : Kitab Minhajul Qashidin, “Jalan Orang-Orang Yang Mendapat Petunjuk”/Penulis: Ibnu Qudamah/ Penerbit: Pustaka Al Kautsar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline