Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Hikmah di Balik Kisah Adam dan Hawa (Bagian 1)

Dengan diturunkannya Adam dan Hawa ke bumi, ada beberapa hikmah yang tak disadari secara langsung oleh kita. Terdapat 15 hikmah yang di antaranya,

  1. Keterangan keutamaan ilmu

Allah menunjukkan kesempurnaan-Nya menciptakan Adam dengan memperlihatkan ilmu yang diberikan kepadanya. Namun, sekiranya ada sesuatu yang tebih mulia dari ilmu, kita wajib memperlihatkan keutamaan sesuatu tersebut.

  1. Kecerdasan yang diturunkan kepada Adam

Allah menguji para malaikat-Nya Salah satu kebijaksanaan Allah adalah menguji para malaikat-Nya dengan memerintahkan mereka menyebutkan nama-nama benda yang telah diketahui Adam. Tujuannya, agar para malaikat mengetahui bahwa pengetahuan mereka kurang.

  1. Kepastian firman Allah

Firman Allah itu menggunakan suara yang dapat didengar dan huruf yang berurutan, seperti dalam firman-Nya,

“Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kalian yang benar!” (QS.a(-Baqarah [2]: 31). Ini adalah pendapat Ahli Sunah wal Jamaah.

  1. Kebaikan Allah kepada para malaikat

Allah lebih mengetahui Jika seseorang ditanya tentang suatu hal yang belum diketahuinya, hendaknya mengatakan, “Allahu a’lam (Allah lebih mengetahui akan hal itu).” Sikap demikian dilakukan para malaikat, nabi, ulama, dan orang-orang bijak. Karena itu, hendaknya kita mengikuti dan meneladani mereka.

  1. Allah menghukum Adam dan Hawa

Adam dan Hawa dikeluarkan Allah dari surga. Itu sebagai hukuman karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Karena itu, hendaknya kita renungkan, bagaimana hukuman yang akan Allah berikan kepada kita yang telah banyak berbuat maksiat kepada-Nya?

  1. Kembali pada hukum sebab akibat

Segala akibat yang dialami manusia tidak lain karena perbuatan mereka sebelumnya. Firman Allah

Read More

Sang Amir yang Menjauhkan Diri dari Kemewahan Dunia

“Sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga),” (QS. al-Baqarah [2]: 36).

Benar, Allah-lah yang menyuruh keduanya keluar dari surga. Namun, hal itu terjadi karena perbuatan Adam yang telah mengikuti bujukan setan.

  1. Setan menjadi musuh Adam dan seluruh keturunannya

Setelah mengetahui bahwa setan adalah musuh yang harus dilawan, maka manusia harus berhati-hati, menjaga diri, dan melepaskan diri dari belenggu setan. Allah telah memberi peringatan kepada kita,

“Sungguh, setan itu musuh bagi kalian, maka perlakukanlah dia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” (QS. Fathir [35]: 6)

Demikian juga firman Allah,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkoh-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar,” (QS. an-Nur [24]: 21).

  1. Dunia menjadi tempat tinggal Adam dan keturunannya

Allah berfirman, “Bagi kalian ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan,” (QS. al-Baqarah [2]: 36).

Namun, dunia bukantah tempat tinggal abadi, sesuai ayat di atas, “sampai waktu yang ditentukan”. Segala sesuatu yang tidak abadi atau tidak kekal pasti akan berakhir. Sesuatu yang bersifat sementara, hanya menunggu waktu, atau bahkan menunggu beberapa detik saja, dan sesuatu yang sudah tewat tidak akan pernah kembali. Ada ungkapan mengatakan bahwa segala yang telah berlalu akan semakin jauh meninggalkan kita dan lebih mendekat pada akhirat.

Untuk itu, kita harus mempersiapkan diri dengan melakukan perbuatan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah . Sebab, kematian yang akan menjemput kita adatah pemutus kenikmatan dunia menuju keabadian hidup di akhirat, saat pembalasan semua perbuatan di dunia.

  1. Pelajaran dan nasihat

Kisah ini merupakan pelajaran dan nasihat bagi seluruh manusia. Pelajaran berharga bahwa satu perbuatan dosa yang ditakukan nenek moyang manusia menyebabkan Allah memberikan hukuman yang sedemikian berat.

Hendaknya, manusia yang telah banyak berbuat dosa besar berpikir, introspeksi diri, dan merenungkan satu ungkapan perpisahan dari orang yang dicintai, “Saat ini adalah saat perpisahan kita”. Renungkanlah, dulu Nabi Adam duduk di atas permadani indah di surga. Namun, hanya karena memakan satu buah dari pohon yang terlarang, Allah mengusirnya dari surga. Karena itu, kita harus berusaha menghindar dari perbuatan maksiat, karena perbuatan itu dapat menyebabkan kita terpuruk dan bermartabat rendah. []

Sumber: Wanita-wanita Hebat, Kisah Memikat di Balik Geliat Dakwah Para Nabi/ Penulis: Ibrahim Mahmud Abdul Radi/ Penerbit: Almahira, 2009

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline