Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Hijrahnya Putra Mahkota kepada Allah dengan Membawa Ruhnya

0

Suatu hari, putra mahkota khilafah Abbasiyyah, Ali bin Ma’mun, memanggil orang miskin. Ia bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengenalku?”

Ia menjawab, “Aku belum pernah melihat Tuan, tetapi aku mengenal Tuan.”

Putra mahkota berkata, “Aku adalah anak Khalifah.”

Ia berkata, “Orang-orang mengatakan demikian.”

BACA JUGA: Kenapa Para Khalifah Turki Utsmani Tak Berhaji?

Putra mahkota bertanya lagi, “Apakah pekerjaanmu?”

Ia menjawab, “Aku bekerja besama hamba-hamba Allah di negeri Allah.”

Putra mahkota berkata, “Aku telah melihatmu selama beberapa hari terakhir ini dan kulihat kamu begitu sengsara, maka aku ingin meringankan penderitaanmu.”

Ia bertanya, “Dengan cara apakah Tuan akan melakukannya?”

Putra mahkota berkata, “Tinggallah kamu dan keluargamu dalam istana bersamaku. Kamu akan hidup senang tinggal makan dan minum tanpa ada kesusahan, tanpa ada penderitaan, dan tanpa ada kesedihan.”

Ia menjawab, “Wahai putra khalifah, tiada kesusahan bagi orang yang tidak berdosa, tiada penderitaan, tiada penderitaan bagi orang yang tidak durhaka, dan tiada kesedihan bagi orang yang tidak melakukan keburukan.”

Putra mahkota bertanya tentang keluarganya. Ia menjawab, “Hanya ibuku yang sudah tua renta dan saudara perempuanku yang buta. Aku datang dengan membawa roti untuk berbuka keduanya sebelum matahari tenggelam, karena keduanya selalu puasa setiap hari. Kami makan bersama, kemudian tidur.”

Putra mahkota bertanya, “Kapan engkau bangun?”

Ia menjawab, “Apabila rahmat Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya turun ke langit yang terdekat (waktu sahur).”

Putra mahkota bertanya lagi, “Apakah kamu punya hutang?”

BACA JUGA: Utsman Lebih Suka Buka Puasa dengan Rasulullah di Surga

Ia menjawab, “Dosa-dosa yang telah kulakukan antara aku dan Allah Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”

Putra mahkota bertanya, “Apakah kamu ingin hidup seperti kami?”

Ia menjawab, “Tidak, demi Allah.”

Putra mahkota heran, “Mengapa?”

Ia menjawab, “Aku takut kalbuku akan menjadi keras dan agamaku menjadi terlantar.”

Putra mahkota berkata, “Apakah kamu lebih memilih menjadi tukang kuli pikul di pasar dalam keadaan lapar di bawah terik matahari, tidak berpakaian, susah, sedih lagi sengsara, dan tidak mau hidup bersamaku di dalam istana kerajaan?”

Ia menjawab, “Benar, demi Allah.” Ia pun turun dan pergi meninggalkan putra mahkota.

Putra mahkota merenung dan berpikir dengan perasaan yang sendu sesudah mendengar ceramah keimanan dari si miskin dan kalbunya tersentuh oleh pelajaran tauhid.

Dalam tidurnya, Putra mahkota terbangun di tengah malam, lalu berkata kepada pengawal pribadinya, “Aku akan pergi ke suatu tempat. Setelah berlalu tiga hari dari kepergianku, sampaikanlah olehmu kepada ayahku, Al-Makmun, bahwa aku pergi dan akan bersua lagi dengannya pada hari penampilan yang terbesar (di padang Mahsyar).”

Mereka bertanya, “Mengapa engkau akan pergi?”

Putra mahkota menjawab, “Aku pandangi diriku dan ternyata aku berada dalam kealpaan, tidur yang nyenyak, terlantar dan sesat. Maka, aku ingin hijrah kepada Allah dengan membawa ruhku.”

Saat terakhir pelayan melihat putra mahkota ialah pada hari ia meninggalkan istana menaiki kendaraannya menuju ke Wasith. Putra mahkota mengubah penampilannya seperti orang miskin dan bekerja pada seorang saudagar untuk membuat batu bata.

Ketika ajal mendekatinya, ia memberikan kepada saudagar itu, majikannya, cincin yang selalu dipakainya dan berkata, “Aku sebenarnya adalah anak khalifah al-Makmun. Apabila aku mati, mandikanlah, kafanilah, dan kuburkanlah aku, kemudian serahkanlah cincin ini kepada ayahku.”

BACA JUGA: Alasan Fatimah Tertawa Saat Sang Ayah Mendekati Ajalnya

Si saudagar pun menceritakan kepada khalifah perihal putranya. Setelah mendengar kisahnya, khalifah dan para menterinya menangis sejadi-jadinya. Mereka memahami bahwa putra mahkota telah bahagia dengan jalannya, namun mereka tidak mengambil jalan bersamanya. []

Sumber: kitab Siyathul Qulub/Karya: Dr. ‘Aid al-Qarni

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More