Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Hasil dari Kesabaran dan Kerja Keras Abu Hurairah

Abu Hurairah langsung terpesona ketika ia menjadi utusan suku Daus, awal tahun ketujuh Hijriyah. Hanya beberapa saat setelah pertemuan itu, ia memutuskan untuk menjadi pelayan—berkhidmat—kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ia tidak kembali ke kampung halamannya, melainkan memilih tinggal di masjid, tempat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memimpin shalat dan mengajarkan Islam, Madinah Al-Munawwarah.

Hari demi hari Abu Hurairah lalui dengan seksama menyimak setiap perkataan, gerak, dan langkah-langkah Rasulullah. Hampir tak secuil pun materi yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam terlewatkan. Daya ingatnya sangat tajam. Meski demikian, Abu Hurairah selalu mencatatkan apa saja yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beberapa waktu lamanya Abu Hurairah hidup di tengah komunitas orang beriman. Betapa bahagia jiwanya mendapatkan kehidupan yang penuh tauhid dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kebahagiaan itu terasa hampa tatkala ia menjenguk ibunya yang sudah sepuh tapi masih berkubang dengan kemusyrikan. Karena sayang dan demi baktinya, ia mengajak dengan argumen yang terang agar ibunya memilih Islam.

Bukan hanya sekali dua kali. Beberapa kali Abu Hurairah tetap mengajak ibunya bersyahadah, bahwa tiada ilah selain Allah SWT dan Muhammad adalah Rasulullah. Sayang, bujukannya tak mempan. Ibunya menolak, bahkan menghindar darinya. Celakanya lagi, ibunya mencela Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan kata-kata yang menyakitkan hatinya.

Dengan perasaan kacau dan langkah gontai Abu Hurairah kembali ke Madinah.Ditemuinya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan bercucuran air mata.

“Kenapa kamu menangis, wahai Abu Hurairah?” tanya Rasulullah pada laki-laki yang pada masa jahilnya disebut Abdu Syams ini.

“Aku tidak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Tetapi, ibu masih menolak. Hari ini kuajak lagi masuk Islam, tetapi beliau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas mengenai Rasulullah, yang saya tidak sudi mengengarkannya. Tolonglah doakan, ya Rasulullah, semoga ibuku tergugah masuk Islam,” Abu Hurairah mengadu.

Rasulullah pun menengadahkan tangannya ke langit, sembari melafazkan doa untuk kebaikan ibu Abu Hurairah. Semburat hidayah dari langit menembus hati ibunya. Berkat kesabaran dan kerja keras Abu Hurairah, ibundanya memilih jalan Islam ketika beberapa waktu ia mengadukan masalahnya pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Jiwanya damai dan bahagia menyaksikan ibunya mengucapkan kalimat syahadah di depannya.

Kejadian itu melengkapi sudah kebahagiaan hidupnya. Ia tak henti-hentinya mengucapkan tahmid, tahlil, dan tasbih.

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Abu Hurairah masuk Islam. Segala puji bagi Allah yang telah mengajari Abu Hurairah Al-Quran. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia kepada Abu Hurairah menjadi sahabat Rasul-Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam,” begitu ia kerap lantunkan.

Demikianlah. Tak sehari pun berlalu tanpa menimba dan mempraktikkan ilmu dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Abu Hurairah kian mencintai ilmu dan juga mengajarkan kepada orang lain, baik keluarga dekat maupun orang tak dikenalnya. []

Baca juga: Berlombalah untuk Mengejar Para Bidadari Surga dan Bertemu Rabb di Surga

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline