Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Gurauan Seorang Calon Nabi

0

Pada masa kecilnya, Nabi Ibrahim tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ibu dan ayahnya. Nabi Ibrahim dilahirkan pada sekitar tahun 2295 SM di Faddam A’ram, Babilonia. Sekarang ini, Babilonia adalah wilayah Irak. Ayah Nabi Ibrahim bernama Azar.

Ia adalah seorang pemahat batu berhala. Berhala pahatan Azar telah terkenal di wilayah Babilonia. Banyak orang datang ke tempat Azar untuk membeli berhala. Wilayah Babilonia adalah wilayah yang subur karena wilayah ini diapit oleh dua sungai besar, yaitu sungai Tigris dan sungai Eufrat. Mata pencaharian penduduk Babilonia adalah dibidang pertanian dan peternakan.

Pada masa itu, penduduk Babilonia adalah orang-orang yang menyembah berhala. Mereka menempatkan berhala di sana sini. Sekalipun berada di lingkungan para penyembah berhala, Nabi Ibrahim tidak ikut menyembah berhala. Allah telah memperlihatkan kepada Ibrahim tentang bukti-bukti kekuasaan Allah. Pada awalnya, Nabi Ibrahim merasa heran dengan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala. “Mengapa mereka menyembah dan memohon pada berhala yang mereka buat sendiri ?” pikir Nabi Ibrahim.

Related Posts

Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengaruniakan iman dan tauhid kepada Nabi Ibrahim sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, dia terpelihara dari perbuatan syirik terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala.

Saat masih kecil, Nabi Ibrahim diminta oleh ayahnya untuk menjualkan patung-patung itu. Sebagai anak yang baik dan taat, Nabi Ibrahim tidak pernah membantah perintah ayahnya. Namun, Nabi Ibrahim tidak bersemangat dalam melakukannya. Ada kalanya Nabi Ibrahim mencela dan menertawakan patung-patung yang dijualnya. Ketika menjual patung-patung itu, Nabi Ibrahim menyeru kepada para pelanggannya, “Hai penduduk Babilonia, siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna dan bodoh ini ?” Kata-kata inilah yang selalu diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika menjual patung-patung ukiran ayahnya.

Melihat tingkah Ibrahim ini, sebenarnya penduduk Babilonia merasa kesal dan tersinggung melihat ulah Ibrahim berjualan. Namun demikian, mereka tidak dapat menghukum Ibrahim karena Ibrahim masih dianggap terlalu kecil. Mereka menganggap Ibrahim sedang bergurau. Padahal gurauan seorang calon Nabi tidak sama dengan gurauan orang biasa yang tanpa manfaat. Gurauan Ibrahim justru menegakkan kebenaran. []

Sumber: Kisah 25 Nabi dan Rasul dilengkapi Kisah Sahabat, Tabiin, Hikmah Islam, Rasulullah, wanita shalihah/ kajian Islam 2

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline