Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Fudhail ibn Iyadh, Seorang Penyamun yang Menjadi Ahli Ibadah

0

Fudhail ibn Iyadh ialah sosok durjana perampok yang menjadi seorang zahid yang ahli ibadah, ahli hadis yang alim, sekaligus dai ke jalan Allah yang berdakwah dengan ucapan dan perbuatannya. Semua bermula dari ketika Fudhail mendengar penggalan firman Allah s.w.t. dengan segenap hati dan perasaannya seketika itu juga dia langsung bertobat dengan semurni-murninya.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa nama lengkap Fudhail yang zahid lagi ahli ibadah itu adalah Fudhail ibn Iyadh at-Tamimi al-Yarbin al-Khurasani (wafat 187 H), dan kemudian berubah menjadi al-Makki (disebabkan per-pindahan domisilinya, penj.)

Abu Ammar Husein ibn Huraits—murid Fudhail ibn Iyadh—berkata, “Aku pernah mendengar Fadhl ibn Musa bercerita: Pada mulanya, Fudhail ibn Iyadh adalah seorang penyamun yang kerap merampok di kawasan sekitar Abiward dan Sarakhs. Sedangkan pertobatan Fudhail berawal ketika ia menyukai seorang perempuan.

Ketika dia memanjat sebuah dinding untuk menemui perempuan itu, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca firman Allah Swt, “Belumkah datang utaktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…?” (QS. Al-liadid: 16)

Demi mendengar ayat itu, Fudhail pun sontak menyahut, “Tentu, wahai Tuhan, ini waktunya telah tiba!”

Dia pun beranjak dari tempat itu untuk kembali ke tempatnya semula. Tetapi karena kemalaman, Fudhail terpaksa bermalam di sebuah bangunan tua yang sudah kosong. Tidak disangka, ternyata di tempat itu ada be-berapa musafir yang sudah mendahului Fudhail.

Pada saat itu, Fudhail mendengar salah seorang musafir berkata kepada temannya, “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!”

Related Posts

Malaikat Memberi Salam kepadanya Setiap Fajar

Tapi, musafir yang lain menyahut, “Tidak! Kita harus menunggu sampai pagi datang karena jika kita berangkat malam ini, pastilah Fudhail si penyamun akan merampok kita semua!”

Mendengar ucapan musafir itu, Fudhail pun langsung bergumam, “Bagaimana mungkin aku dapat menghabiskan malam-malamku dengan maksiat, sampai-sampai orang-orang muslim ini sedemikian takutnya terhadapku? Sungguh aku yakin bahwa Allah yang telah mempertemukan aku dengan para musafir ini ingin agar aku segera bertobat.”

Fudhail lalu bergumam, “Wahai Allah, sungguh aku telah bertobat kepada-Mu. Dan kujadikan tobatku itu dengan tinggal di Masjidil Haram.”

Fudhail pun segera pindah ke kota Mekah dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.”

Ibrahim ibn Asy’ats—salah seorang pembantu Fudhail—menuturkan, “Aku tidak pernah menemukan seorang pun yang begitu mengagungkan Allah selain Fudhail. Sebab, setiap kali ia berzikir atau mendengar ayat al-Qur’ an dibacakan, pastilah dia langsung terlihat ketakutan dan sedih, air matanya juga akan segera berlinang sehingga membuat iba orang-orang yang ada di sekitamya.”

Ribah ibn Khalid pernah berkata bahwa Abdullah ibn Mubarak bercerita, “Setiap kali aku melihat Fudhail, pastilah aku langsung berduka dan kuumpat diriku sendiri karena kulihat dia sedang menangis!” []

Sumber: Risalah al-Mustarsyidin: Tuntunan Bagi Para Pencari Petunjuk/ Penulis: Al-Harits al-Muhasibi/Penerbit: Qisthi Press

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline